PENTAS.TV – BANDUNG, Dalam dunia transportasi publik, khususnya perkeretaan, ada aspek krusial yang wajib menjadi perhatian serius operator pengelolanya, dalam hal ini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero).
Yakni, tidak hanya soal pelayanan prima, tetapi juga faktor keselamatan. Faktor ini pun bukan saja tentang keandalan seluruh fasilitasnya, baik sarana maupun prasarana, melainkan juga faktor alam.
Joni Martinus, pengamat transportasi publik perkeretaan, berpendapat, berkenaan dengan kondisi alam, ada hal yang wajib menjadi perhatian serius PT KAI (Persero).
“Kondisi alam merupakan hal yang sangat wajib dan krusial bagi PT KAI (Persero) untuk senantiasa memastikan keamanan, keselamatan, kelancaran, dan kenyamanan setiap perjalanan, terlebih pada momen-momen tertentu, seperti Natal-Tahun Baru (Nataru),” tandas mantan Vice President Public Relations PT KAI (Persero) ini.
Joni Martinus meneruskan, demi memastikan kelancaran, keamanan, keselamatan, dan kenyamanan seluruh perjalanan, terutama pada momen Nataru 2025-2026, korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dahulu bernama Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) tersebut wajib memperhatikan, mengamati, dan memantau ratusan rawan bencana hidrometeorologi, seperti longsor, banjir, pergerakan tanah, dan sebagainya, pada seluruh jalur lintas kereta.
Secara keseluruhan, ungkapnya, ada 177 titik rawan pada jalur kereta. Yang terbanyak, kata mantan Manager Hubungan Masyarakat (Humas) PT KAI (Persero) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung ini, berlokasi di wilayah Jawa, mulai Wilayah 1 Jakarta sampai Wilayah 9 Jember. Jumlahnya, kata dia, sebanyak 110 titik rawan.
“Sisanya, sebanyak 67 titik rawan, berlokasi di wilayah Sumatera,” lanjut mantan Vice President Corporate Secretary PT KAI (Persero) Commuter Line Indonesia (KCI) tersebut.
Joni Martinus menyarankan PT KAI (Persero) agar memitigasi seluruh titik rawan tersebut, secara dini.
Hal itu, lanjut dia, sebagai upaya antisipasi terjadinya kendala non-teknis yang berpotensi menggangu kelancaran, keamanan, keselamatan , dan kenyamanan setiap perjalanan kereta .
Yang tidak kalah krusialnya, tambah Joni Martinus, inspeksi dan pengecekan kondisi jalur, jembatan, terowongan, dan perlintasan secara rutin, juga keniscayaan bagi korporasi Merah Putih yang juga sempat bernama Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) ini
Joni Martinus mengatakan, berdasarkan data dan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi ,dan Geofisika (BMKG), prediksinya, Desember 2025 dan Januari-Februari 2026 merupakan puncak musim hujan.
Artinya, jelas dia, program Masa Angkutan Nataru 2025-2026, yakni pada 18 Desember 2025-4 Januari 2026, berlangsung selama musim hujan.
“Tentunya, PT KAI (Persero) wajib melakukan berbagai upaya antisipasi,” seru Joni Martinus.
Bicara soal performa dan kinerja, Joni Martinus mengapresiasi penyelenggaraan Masa Angkutan Nataru 2025/2026. Acuannya, tutur dia, ada penambahan kapasitas penumpang.
Pada Nataru kali ini, sambungnya, PT KAI (Persero) menyediakan kapasitas penumpang berjumlah 49.635.448 tempat duduk, yang meliputi 40.493 perjalanan. Secara tahunan, imbuhnya, kapasitas penumpang itu bertambah 8,6 persen.
Adanya program Angkutan Sepeda Motor Gratis (Motis) selama momen Nataru 2025-2026 plus pemberlakuan tarif diskon 30 persen kereta jarak jauh komersial kelas ekonomi, serta aktivasi kereta tambahan pun, kata Joni Martinus, sangat layak diapresiasi.
“Tapi, tentunya, faktor keselamatan, keamanan, kelancaran , dan kenyamanan perjalanan lebih utama. Itu karena perkeretaan tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga wajib mengedepankan serta mengutamakan pelayanan dan keselamatan,” tutup Joni Martinus. (win/*)














