PENTAS TV – CIANJUR, Jalan berbatu, tanjakan curam, hingga risiko kecelakaan menjadi bagian dari rutinitas Nurbaeti (35). Setiap pagi, kader Keluarga Berencana (KB) sekaligus anggota Tim Pendamping Keluarga (TPK) Desa Ciguha, Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur ini menembus medan berat demi mengantarkan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Nurbaeti menjadi ujung tombak distribusi MBG dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Ciguha. Setiap hari, ia berangkat antara pukul 07.00 hingga 08.00 WIB, berpacu dengan waktu agar makanan basah diterima sebelum pukul 10.00 WIB demi menjaga kualitas dan keamanan konsumsi.
“MBG tidak boleh diberikan setelah jam 10 untuk makanan basah, jadi kami harus tepat waktu,” ujar Nurbaeti dalam video yang dirilis Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Jarak pengantaran terjauh mencapai sekitar enam kilometer dari kantor desa. Sebagian wilayah hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki karena kondisi jalan yang sulit. Tak jarang, perjalanan diwarnai berbagai insiden teknis.
“Ban meletus, rem blong, sampai jatuh itu sudah sering. Bahkan hampir setiap tiga hari sekali rem motor harus diperbaiki ke bengkel,” tuturnya.
Meski penuh tantangan, Nurbaeti tetap menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi. Ia mengaku termotivasi oleh kecintaannya pada anak-anak serta dorongan untuk melanjutkan pengabdian orang tuanya yang dahulu juga menjadi kader di Desa Ciguha.
Desa Ciguha sendiri merupakan wilayah pertanian sayur yang minim akses terhadap protein hewani dan buah-buahan. Kehadiran MBG dinilai sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
“Di sini ladang sayur banyak, tapi ternak ayam atau buah-buahan hampir tidak ada. Dengan adanya MBG, masyarakat bisa makan lebih bergizi dan hidup lebih sehat,” jelas Nurbaeti.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh para penerima. Dede Sutini (29), ibu hamil penerima MBG, mengaku sangat terbantu.
“Dulu untuk makan saja sulit. Sekarang alhamdulillah ada MBG, sangat membantu untuk saya dan calon bayi,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Tutih (27), ibu balita. Ia melihat perubahan signifikan pada anaknya setelah rutin menerima MBG.
“Anak jadi lebih teratur makannya, lebih lahap, dan lebih aktif,” katanya.
Selain mengantar makanan, Nurbaeti juga memberikan edukasi kepada ibu-ibu mengenai kehamilan, menyusui, serta pengasuhan anak. Perannya menjadi penting tidak hanya dalam pemenuhan gizi, tetapi juga peningkatan pola asuh keluarga.
Baginya, kebahagiaan terbesar adalah saat anak-anak menyambut kedatangannya dengan antusias.
“Anak-anak sudah menunggu di depan rumah. Itu kepuasan tersendiri bagi saya,” ungkapnya.
Nurbaeti berharap Program Makanan Bergizi Gratis dapat terus berlanjut demi masa depan anak-anak Desa Ciguha.
“Semoga program MBG ini bisa berjalan terus,” pungkasnya.
Di balik medan terjal dan keterbatasan desa, perjuangan Nurbaeti menjadi bukti bahwa upaya membangun masa depan bangsa dimulai dari pemenuhan gizi anak-anak, bahkan dari pelosok negeri.(GIH/*)






















