PENTAS.TV – BANDUNG, Tidak jarang, bencana hidrometeorologi, seperti longsor, amblas, banjir, pergerakan, tanah, pohon tumbang, yang disebabkan kerusakan alam akibat ulah manusia, memunculkan berbagai dampak negatif.
Kondisi itu yang dirasakan PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero). Pasalnya, korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor transportasi ini kembali harus bekerja ekstra keras menangani tanah amblas pada ruas jalur Cibeber-Lampegan, tepatnya Kilo Meter KM 73 +9/0.
Akibatnya, amblasnya tanah pada jalur tersebut menyebabkan seluruh perjalanan Siliwangi (Cipatat-Sukabumi pp) mengalami pembatalan.
Tentunya, PT KAI (Persero) bertekad untuk menormalisasikan perjalanan Siliwangi sesegera mungkin.
“Target kami, seluruh jadwal perjalanan Siliwangi kembali normal pada 24 April 2026” cetus Kuswardoyo, Manager Hubungan Masyarakat (Humas) PT KAI (Persero) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung..
Karena itu, tegas Kus, sapaan akrabnya, pihaknya berupaya keras agar normalisasi jalur Cibeber-Lampegan tuntas pada 23 April 2026.
Supaya target penuntasan itu tercapai, mantan Manager Public Relations Light Rail Transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) ini membeberkan, hingga kini, proses normalisasi terus berlangsung intensif dan non-stop.
Agar proses normalisasi jalur segera tuntas, kata Kus, pihaknya mengerahkan segenap sumber daya dan kemampuannya.
Fokus normalisasi, tuturnya, yaitu memperkuat tubuh ban rel agar memastikan keselamatan, keamanan, dan kelancaran perjalanan kereta.
Agar tubuh ban rel kokoh, jelasnya, tim memasukkan material pada area yang amblas. Cara itu juga, sambungnya, untuk memperkuat struktur tanah penopang jalur rel yang tergerus.
Apabila proses normalisasi sesuai rencana, yakni 23 April 2026, mantan Manager Humas PT KAI (Persero) Daop 3 Cirebon tersebut optimistis bahwa jalur tersebut bisa kembali dilintasi Siliwangi secara normal pada 24 April 2026. (win)

