
PENTAS.TV – BANDUNG, Meski terjadi berbagai dinamika global, di antaranya konflik geopolitik di Timur Tengah, perekonomian Jabar tetap bergiat. Kondisi itu tercermin pada realisasi perdagangan Jabar selama triwulan pertama 2026.
Margaretha Anggorowati, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, mengungkapkan, pada periode Januari-Maret 2026, perdagangan Jabar menunjukkan progres positif.
“(Perdagangan) Jabar surplus 6,55 miliar dolar AS (Amerika Serikat) atau sekitar Rp114 triliun pada tiga bulan awal tahun ini,* tandas Margaretha Anggorowati.
Padahal, tuturnya, secara monthly atau bulanan, perdagangan Jabar, baik ekspor maupun impor, diterpa berbagai tantangan yang cukup berat.
Meski demikian, kinerja ekspor Jabar turut menopang surplus neraca perdagangan Jabar pada triwulan I 2026.
Ari, sapaan akrabnya, membeberkan, pada Januari-Maret 2026, Jabar membukukan nilai ekspor yang masif, yakni 9,13 miliar dolar AS atau sekitar Rp241 triliun.
Nilai ekspor tersebut, lanjutnya, melebihi nilai impor, yang nominalnya 2,58 miliar dolar AS atau sekitar Rp44,97 triliun.
Kondisi itu terjadi, jelasnya, berkat hasil positif perdagangan dengan beberapa negara strategis. Yaitu, sebutnya, AS, Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Sayangnya, aku Ari, ada dua negara yang yang manjadi titik terjadinya defisit neraca perdagangan Jabar. Yakni, sebutnya, China dan Taiwan.
Sejatinya, khusus Maret 2026, kata dia, perdagangan Jabar, yang bernilai 2,68 miliar dolar AS atau setara dengan Rp46,72 triliun, lebih sedikit daripada realisasi perdagangan periode Februari 2026, yang angkanya 3,32 miliar dolar AS atau sekitar Rp57,87 triliun.
Tidak hanya secara bulanan, sambungnya, berbagai tantangan global itu pun menyebabkan perdagangan Jabar pada periode Maret 2026, terkontraksi 13,46 persen apabila perbandingannya dengan bulan ketiga 2025.
Soal impor, Ari mengemukakan, khusus Maret 2026, secara bulanan, realisasinya susut 19 persen atau menjadi 700 juta dolar AS atau sekitar Rp12,1 triliun. Sedangkan perbandingannya dengan Maret 2025, nih ya, terkoreksi 28,59 persen.
“Secara kumulatif, meski mengalami surplus, neraca perdagangan Jabar periode Januari-Maret 2026 terkontraksi 2,05 persen secara tahunan,” pungkasnya. (win/*)

