
PENTAS.TV – BANDUNG, Selama beberapa waktu terakhir, rupiah mengalami perkembangan negatif. Pergerakannya terus melemah. Posisinya, melebihi level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sebagai institusi negara sektor keuangan, Bank Indonesia (BI) terus menyusun dan menerapkan berbagai strateginya demi stabilitas rupiah. Satu caranya, menetapkan suku bunga acuan.
Berpatokan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan, BI menetapkan perubahan suku bunga acuan.
Kini, suku bunga acuan berada pada level 5,50 persen, bertambah 25 basis poin (bps). Sebelumnya, posisi suku bunga acuan yakni 5,25 persen.
Dalam penjelasannya, Perry Warjiyo, Gubernur BI, berkilah, bertambahnya posisi suku bunga acuan menjadi 5,50 persen merupakan strategi jajarannya dalam upaya stabilisasi rupiah.
“Selain itu, juga upaya pengembalian inflasi,” tandas Perry Warjiyo, kepada media, pada jumpa pers RDG Mingguan.
Perubahan posisi suku bunga acuan pun, lanjutnya, guna menambah imbal hasil. Hal itu, ujarnya, sebagai daya pikat bagi para investor asing untuk berinvestasi pada sejumlah instrumen finansial.
Dia menilai, selain terjadinya konflik geopolitik, seperti di Timur Tengah, masifnya permintaan valuta asing (valas), juga termasuk pemicu pergerakan negatif rupiah.
“Perkembangan outflow investasi asing dari Indonesia, juga berdampak pada perkembangan rupiah,” tutur Perry Warjiyo. (win/*)

