PENTAS.TV – BANDUNG, Di banyak negara, ada beberapa sektor yang berkatagori sebagai kunci atau senjata rahasia tetap bergulirnya roda ekonomi, yakni Usaha Mikro-Kecil-Menengah (UMKM).
Pasalnya, UMKM adalah sektor paling tangguh dan sanggup bertahan dalam menyikapi berbagai tantangan dinamika global.
Sebagai contoh, ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia, UMKM berhasil survive, bahkan tetap bergeliat.
Karena itu, pemerintah, melalui korporasi-korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus bekerja keras dan menyiapkan, menyusun, sekaligus mengimplementasikan rencana-rencananya agar UMKM tetap menggeliat.
Satu caranya, menggulirkan program pembiayaan bagi UMKM, yakni Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang elibatkan perbankan-perbankan, terutama, yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara), satu di antaranya, PT Bank Mandiri Tbk (Persero).
Seperti apa perkembangannya?
Dalam keterangannya, Saptari, Direktur Consumer Banking PT Bank Mandiri Tbk (Persero), mengklaim, pada 2 Februari 2026, secara nasional, pihaknya menyalurkan KUR bernilai Rp73,35 triliun.
Dana pembiayaan bagi para pelaku UMKM itu, lanjut Saptari, penyalurannya kepada 59.327 debitur.
“Nominal KUR pada 2 Februari 2026 itu berarti kami menyalurkan 17,92 persen proyeksi tahun ini, yang nilainya Rp41 triliun,” tandas Saptari.
Mayoritas, ungkapnya, yakni 61,83 persen penyaluran KUR pada 2 Februari 2026 tersebut, diterima sektor produksi. Persentase itu, terangnya, setara Rp4,54 triliun.
Pertanian, ujarnya, yang menjadi trigger terciptanya stabilitas dan ketahanan pangan nasional, merupakan penerima penyaluran KUR termasif pada sektor produksi, yakni Rp2,21 triliun.
Jasa produksi, lanjutnya, menjadi sektor produksi terbanyak kedua yang menerima KUR. Nominalnya, sebut dia, yaitu Rp1,65 triliun.
“Lalu, ada sektor industri pengolahan dan perikanan, yang masing-masing menerima penyaluran KUR bernilai Rp568 miliar serta Rp107 miliar,” paparnya.
Tidak hanya gelontoran yang masif, Saptari menyatakan, penyaluran KUR hingga 2 Februari 2026 itu juga diimbangi pergerakan rasio Non-Performing Loan (NPL) yang positif. Posisinya, sambung dia, tidak melebihi 1 persen.
Secara kumulatif, beber dia, sejak pertama kali bergulir, yakni 2008, hingga 2 Februari 2026, perbankan berkode emiten BMRI tersebut nominal KUR yang tersalurkan yakni Rp310,59 triliun. Penerimanya, tambah dia, yakni sebanyak 3,65 juta debitur. (win/*)













