PENTAS.TV – BANDUNG, Sebuah gebrakan guna memperkuat, memperlancar, dan mempercepat mobilitas dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero).

Informasinya, Pemprov Jabar dan PT KAI (Persero) sepakat menggarap pembangunan rangkaian kereta rute Bandung-Jakarta yang lebih ekspres daripada Parahyangan, yakni Kilat Pajajaran.

Konon, desain Kilat Pajajaran mampu melaju lebih cepat daripada kereta legendaris rute yang sama tersebut, yakni sekitar 90 menit.

Sedangkan waktu tempuh Bandung-Jakarta menggunakan Parahyangan, rata-rata sekitar 150 menit-180 menit.

Tergerusnya kehadiran Kilat Pajajaran, yang rutenya Bandung-Gambir, berdasarkan kesepakatan antara Dedi Mulyadi, Gubernur Jabar, dan Bobby Rasyidin, Direktur Utama PT KAI (Persero).

Kang Dedi Mulyadi (KDM), sapaan akrab orang nomor satu Tatar Pasundan ini menyatakan, jika rencana ini terealisasi, kehadiran Kilat Pajajaran bisa mempe cepat mobilitas publik Bumi Parahyangan melalui jalur konvensional.

Bahkan, KDM mengklaim, Kilat Pajajaran, yang kebutuhan investasinya bernilai Rp8 triliun, merupakan kereta tercepat di tanah air setelah Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) alias Whoosh.

Saking seriusnya menggarap Kilat Pajajaran, mantan Bupati Purwakarta ini menyatakan, pihaknya menyusun rancangan dan rencana anggaran pembangunannya.

Teknis penyalurannya, melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jabar. Nominalnya, yakni Rp2 triliun per tahun, selama periode 2027-2030.

Bahkan, dalam perkembangannya, besar kemungkinan, rute perjalanan Kilat Pajajaran, dari tidak hanya berhenti di Kota-Bandung.

Namun, kata KDM, dari Bandung, berlanjut ke wilayah timur Jabar, melintasi Garut-Tasikmalaya. Waktu tempuhnya pun lebih cepat, yakni sekitar 180 menit.

Meski begitu, KDM menyampaikan, agar Kilat Pajajaran bisa mencakup wilayah Garut-Tasikmalaya, pihaknya ingin pemerintah kota-kabupaten Garut dan Tasikmalaya, turut berinvestasi dalam proyek tersebut.

Apabila tidak turut berkontribusi investasi, tegasnya, otomatis, Bandung menjadi titik pemberhentian Kilat Pajajaran dari Gambir.

Bobby Rasyidin menambahkan, agar rencana proyek pembangunan Kilat Pajajaran terealisasi, awal 2026 menjadi momentum untuk memulai proses pengkajiannya.

Prediksinya, proses pengerjaan proyek ini berlangsung selama 3-4 tahun. Perkiraannya, Kilat Pajajaran beraksi pada 2030. (win/*)