PENTAS.TV – BANDUNG, Beragam dinamika yang terjadi, seperti konflik geopolitik antara Iran dan duet Amerika Serikat (AS)-Israel, bisa berdampak pada perekonomian secara global.
Sebagai antisipasi dampak beragam dinamika, termasuk konflik di Timur Tengah tersebut, pemerintah beserta lembaga-lembaganya terus menyusun, menyiapkan, dan mengimplementasikan berbagai strateginya.
Hal itu pun dilakukan korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pangan, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog).
Informasinya, demi terciptanya stabilitas dan ketahanan pangan nasional dan daya beli masyarakat, Perum Bulog siap merilis produk inovatif terbarunya, yakni Beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) berukuran 2 kilo gram.
Ahmad Rizal Ramdhani, Direktur Utama Perum Bulog, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), menjelaskan, rencana jajarannya merilis Beras SPHP berukuran 2 kilo gram agar lebih terjangkau dan terakses oleh kalangan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
“Selain itu, demi terciptanya stabilitas dan ketahanan pangan, termasuk memperkuat daya beli masyarakat,” tandas Ahmad Rizal Ramdhani.
Agar kebutuhan pangan, khususnya komoditas beras, terakomodir, ungkap purnawirawan perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) ini mengatakan, selain memperbanyak varian ukuran kemasan, pihaknya juga menambah batas maksimal pembelian Beras SPHP.
Selama ini, tuturnya, pada setiap transaksi, batas maksimal pembelian Beras SPHP oleh masyarakat berjumlah dua kemasan ukuran 5 kilo gram atau setara 10 kilo gram.
Namun, adanya penambahan batas maksimal pembelian, lanjut dia, pihaknya membolehkan masyarakat membeli Beras SPHP maksimal 5 kemasan.
Selain menambah ukuran kemasan, Bulog juga melonggarkan batas pembelian beras SPHP oleh masyarakat. Jika sebelumnya pembelian dibatasi maksimal dua kemasan, kini diperluas menjadi lima kemasan dalam satu transaksi pada setiap transaksinya.
Tentu saja, tegas dia, pihaknya pun menambah kapasitas pemesanan bagi para pengecer, yakni, yang selama ini 2 ton, menjadi 4 ton, bahkan lebih.
Teknis pendistribusian, beber Ahmad Rizal Ramdhani, pihaknya melibatkan distributor berlabel Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yang pada tahun sebelumnya, belum terlibat.
“Penyalurannya pun ada penyesuaian. Selama 2026, skema penyalurannya secara non-stop. Tahun lalu, polanya bertahap,” kata dia.
Akan tetapi, aku Ahmad Rizal Ramdhani, proyeksi penyaluran Beras SPHP pada 2026, sebanyak 825 ribu ton, lebih sedikit daripada 2025, yaitu sekitar 1,5 juta ton..
Penetapan target volume penyaluran yang sedikit berkurang itu, dalih dia, karena pihaknya menyesuaikan dengan pagi anggaran Kementerian Keuangan. (win /*)

