PENTAS.TV – BANDUNG – Setiap korporasi, terutama yang berlabel Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tentunya, memiliki beragam strategi dan kiat agar performa dan kinerja ya tetap apik dan mentereng.

Begitu juga dengan industri strategis pelat merah yang merupakan holding DEFEND ID, PT Len Industri (Persero).

Joga Dharma Setiawan, Direktur Utama PT Len Industri (Persero), dalam keterangannya, menggemukan, agar terus berkontribusi bagi negeri ini secara berkelanjutan sehingga lebih berdaya saing global, pihaknya menyusun dan menetapkan beberapa strategi yang adaptif.

“Penyusunan strategi itu berpatokan pada RJRP (Rencana Jangka Panjang Perusahaan). Acuan lainnya, yakni aspirasi para pemilik saham. Termasuk hasil analisis pihak eksternal,” tandas Joga Dharma Setiawan.

Keseluruhan strategi itu, ujar dia, terumuskan dalam Corporate Strategis Scenario (CSS) yang mencakup tujuh pilar utama.

Antara lain, sebutnya, pemerkuatan skema beserta transformasi bisnis, terus berinovasi produk, dan penyempurnaan pola pelayanan.

Selain itu, lanjut dia, juga memperkuat seluruh sumber daya, termasuk Sumber Daya Manusia (SDM) dan pengembangan teknologi informasi berbasis digital.

Joga Dharma Setiawan berpendapat, penerapan ketujuh pilar ini untuk menyikapi berbagai perkembangan dan dinamika, khususnya industri pertahanan. Tidak itu saja, sambungnya, juga agar memperkokoh daya saing serta nilai tambah, baik level regional maupun global.

Aada beberapa kiat agar strategi dan penerapan CSS terealisasi secara optimal. Di antaranya, beber dia, mengoptimalisasikan proyek-proyek baik yang berkenaan dengan industri pertahanan maupun komersial dan non-pertahanan.

Misalnya, kata Joga Dharma Setiawan, sektor energi, transportasi, teknologi informasi, dan sebagainya.

“Lalu, mengakselerasi terealisasinya kontrak baru dan menggeliatkan bum rate operasional,” kata dia,

Kemudian, tuturnya, memperkokoh struktur finansial, termasuk streamlining anak usaha agar struktur bisnisnya lebih efektif, efisien, dan kompetitif, dan bankable.

Dia mengimbuhkan, menambah kapasitas produksi, menerapkan proses bisnis berbasis digital, penyempurnaan sekaligus pemerkuatan kompetensi SDM, dan memperkuat produktivitas, juga termasuk fokus jajarannya.

Joga Dharma Setiawan menilai bahwa bisnis industri pertahanan punya peluang dan prospek positif. Pasalnya, ujarnya, pemerintah menambah anggaran sistem pertahanan dan memperbanyak proyek strategis.

“Kans untuk kami untuk lebih ekspansif pada sektor komersial dan non-pertahanan skala internasional serta global juga terbuka,” paparnya.

Joga Dharma Setiawan mengatakan, pada pasar global, ada dua kawasan yang menjadi bidikan jajarannya. Yakni, beber dia, negara-negara kawasan Asia-Pasifik dan Afrika.

Dasarnya, terang dia, adanya peluang kontak pertahanan dan sejumlah proyek lintas kementerian.

Melihat terbukanya peluang-peluang tersebut, Joga Dharma Setiawan menyatakan, pada tahun ini, pihaknya mencanangkan nominal kontrak proyek bernilai jumbo.

Nominalnya, sebut dia, yakni Rp132,05 triliun. Pihaknya pun, tambahnya, mematok perolehan income atau penghasilan 2026, yakni bernilai Rp35,47 triliun, serta bjm rate operasional bertambah 26,86 persen. (win/*)