PENTAS.TV – BANDUNG, Bagi banyak korporasi, para pelaku usaha, dan industri, baik skala mikro, kecil, menengah,maupun besar, 2025 merupakan momen yang penuh dinamika dan tantangan berat.

Faktanya, tidak sedikit korporasi yang performa dan kinerjanya terkontraksi. Hal itu dialami korporasi swasta nasional multi-sektor terakbar di tanah air, PT Astra International Tbk.

Terbukti, perolehan laba bersih PT Astra International Tbk tidak lebih banyak daripada pencapaian sebelumnya.

Namun, secara nilai, perolehan laba bersihnya itu masih bisa membuat PT Astra International Tbk tersenyum. Pasalnya, nilai laba bersihnya melebihi Rp30 triliun.

Dalam keterangannya, Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur PT Astra International Tbk, tidak membantah bahwa perolehan laba bersih korporasi yang dinakhodainya tersebut terkoreksi.

“Pada 2025, kami membukukan laba bersih Rp32,8 triliun .Angka itu berkurang 3 persen apabila perbandingannya dengan pencapaian 2024,, yang nilainya Rp33,9 triliun,” tandas Djony Bunarto Tjondro.

Selain laba bersih, lanjutnya, net income atau pendapatan bersih pun terkontraksi. Selama Januari-Desember 2025, ujar Djony Bunarto Tjondro, pihaknya meraup net income yang lebih sedikit 2 persen daripada periode sama 2024, yaitu Rp323,4 triliun.

Djony Bunarto Tjondro mengajukan usul, saran, dan ide tentang pembagian dividen Tahun Buku 2025.

Usulnya, kata dia, yaitu nilai pembagian dividen yakni Rp390 per lembar saham yang rasionya 48 persen, plus nilai dividen yang putusannya saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS}, pada April 2026, yakni Rp292 per lembar saham.

Lalu, apa penyebab tekontraksinya perolehan laba bersih tersebut? jony Bunarto Tjondro lantas mengungkap biang keroknya.

Dia menuding perkembangan batu bara dan lesunya pasar otomotif, khususnya segmen mobil, sebagai biang keladinya. Secara cukup rinci, Djony Bunarto Tjondro menjelaskan laba bersih yang diraup jajarannya.

Tahun lalu, beber Djony Bunarto Tjondro, meski pasar otomotif, khususnya mobil baru, terkoreksi 7 persen, sektor bisnis yang statusnya tetap merupakan back Bone korporasi berkode emiten ASII ini, pihaknya meraup laba bersih Rp11,4 triliun.

Pada segmen sepeda motor, sambung dia, melalui PT Astra Honda Motor (AHM), selaku Agen Pemegang Merek (APM) Honda Motor Corporation, pihaknya tetap dominan,. Itu karena PT AHM menguasai 78 persen pasar Sepeda motor nasional.

Djony Bunarto Tjondro menginformasikan, kinerja Divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi terkoreksi cukup signifikan.

Hingga Desember 2025, perolehan laba divisi tu, kata dia, berkurang 24 persen secara tahunan. Nominalnya menjadi Ro9,1 triliun.

Beruntung, kata dia, Sektor Jasa Keuangan (SJK) menunjukkan performa positif. Bentuknya, ucapnya, perolehan laba, yang secara tahunan bertambah 9 persen atau menjadi Rapi triliun.

Itu terjadi, lanjutnya, berkat menggeliatnya penyaluran pembiayaan baru, yang bergairah 5 persen secara tahunan atau posisinya menjadi Rp112,3 triliun.

Lini bisnis logam mulia alias emas, imbuhnya, juga mengalami tren positif selama 2025. Itu berkat, terangnya, melejitnya harga emas sebanyak 40 persen.

“Begitu pula dengan divisi Agrobisnis. Perolehan laba divisi ini pada 2025, bertambah 28 persen secara tahunan. Penyebabnya, harga CPO (Crude Palm Oil) yang mengalami penyesuaian,” paparnya. (win/*)