PENTAS.TV – BANDUNG, Bergulirnya agenda global tentang emisi rendah karbon, yakni Net Zero Emissions (NZE) membuat pemerintah mengampanyekan program kendaraan ramah lingkungan berbasis elektrifikasi.

Tentunya, program kendaraan elektrifikasi termasuk cara pemerintah agar agenda NZ, yang targetnya terealisasi pada 2060 itu direspon para produsen otomotif, termasuk kalangan Agen Pemegang Merek (APM).

Seiring dengan hal itu, banyak APM merilis varian dan model-model berbasis elekttrifikasi, baik full Electric Vehicle (EV), Plug-In Hybrid Electric Vehicle (PHEV) , Hybrid Electric Vehicle (HEV), maupun Battery Electric Vehicle (BEV).

Memang, saat hadir untuk kali pertama, publik di tanah air belum terlalu merespon kehadiran model-model elekttrifikasi tersebut.

Namun, perlahan tapi pasti, varian-varian elektrifikasi direspon publik negara ini. Karena itu, perlahan tapi pasti pasar elektrifikasi semakin menunjukkan geliatnya.

Bukti terbaru bergeliatnya pasar elekttrifikasi tercermin pada realisasi penjualannya selama 2025.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, pada 2020, volume penjualan model-model elekttrifikasi berjumlah tidak melebihi 1.400 unit, tepatnya 1.324 unit.

Namun, kondisinya berubah drastis pada 2025. Selama Januari-Desember 2025, volume penjualan kendaraan elektrik berjumlah 175.144 unit.

Volume penjualan tersebut melebihi realisasi periode sama 2024, yang jumlahnya sebanyak 103.228 unit atau melesat sekitar 21,8 persen secara tahunan.

Model elektrifikasi paling laris dan terbanyak penjualannya yaitu BEV. Kendaraan elektrik berbasis baterai ini, selama 2025, volume penjualannya berjumlah 103.931 unit, melebihi pencapaian 2024, yang angkanya 43.188 unit.

Varian terfavorit selanjutnya adalah HEV. Selama 12 bulan periode 2025, model Hybrid terjual sebanyak 66.943 unit, melampaui realisasi 2024, yang berjumlah 59.903 unit.

Begitu pula dengan varian PHEV. Pada 2025, volume penjualan beragam brand berbasis PHEV berjumlah 5.270 unit, jauh melebihi tahun sebelumnya, yakni 136 unit.

Melejitnya kinerja penjualan model-model elekttrifikasi, cukup berdampak pada varian-varian konvensional berbasis Internal Combusted Engine (ICE) alias berpembakaran internal yang mengandalkan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Meski demikian, secara volume, penjualan kendaraan berbasis ICE masih lebih masif daripada elektrifikasi, yakni 628.543 unit.

Secara kumulatif, mengacu pada data Gaikindo, volume penjualan wholesales seluruh brand dan varian, baik elekttrifikasi maupun ICE, berjumlah 803.687 unit.

Artinya, kendaraan konvensional meraih 78,2 persen penjualan otomotif nasional secara wholesales.

Padahal, selama 2024, volume penjualan kendaraan ICE secara wholesales berada pada level 762.495 unit atau meraih 88,1 persen.

Sedangkan realisasi penjualan wholesales model-model elektrifikasi pada 2025, meraih 21,8 persen pasar otomotif nasional.

Jadi, sejak 2020, pasar kendaraan berbasis ICE, yang kala itu pada level 99,8 persen, tergerus oleh model-model elektrifikasi berkurang sekitar 21,6 persen. (win /*)