PENTAS.TV – BANDUNG, Hasrat pemerintah era kepemimpinan Presiden Republik Indonesia (RI) periode 2024-2029, Prabowo Subianto, untuk kembali menggeliatkan status negeri ini sebagai negara agraris begitu kuat.
Caranya, memperkuat sektor pertanian agar stabilitas dan ketahanan pangan nasional tercipta demi mewujudkan cita-cita, swasembada.
Karenanya, mantan Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) ini menginstruksikan jajarannya, termasuk korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pangan, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) agar mempermasif volume penyerapan dan pengadaan beras atau gabah kering setara beras petani.
Hasilnya, luar biasa. Hingga pekan pertama Januari 2026, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sangat masif. Volumenya melebihi 3,2 juta ton.
Kepqda media, Ahmad Rizal Ramdhani, Direktur Utama Perum Bulog, mengungkapkan, hingga 8 Januari 2026, pihaknya mengelola CBP sebanyak 3,35 juta ton, tepatnya 3.351.900 ton.
Purnawirawan perwira tinggi TNI AD ini optimistis bahwa berlimpahnya stok CBP tersebut bisa memenuhi kebutuhan pangan masyarakat hingga Ramadan-Idul Fitri 2026.
Ahmad Rizal Ramdhani berkeyakinan bahwa ketersediaan CBP tersebut bisa bertambah. Pasalnya, jelas dia, prediksinya, hasil panen para petani selama 2026 yang masif.
Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) menugaskan jajarannya agar melakukan penyerapan dan pengadaan beras atau gabah kering setara beras sebanyak 4 juta ton.
“In Syaa Allah, apabila target penugasan pemerintah untuk menyerap beras atau gabah kering setara beras petani pada tahun ini yang volumenya 4 juta ton bisa terealisasi, stok CBP semakin berlimpah, yakni sekitar 7 juta ton,” tandas Ahmad Rizal Ramdhani.
Seandainya kondisi tersebut benar-benar terealisasi, Ahmad Rizal Ramdhani yakin bahwa Indonesia bisa mengekspor beras ke sejumlah negara. “Tapi, prioritas utama tetap kebutuhan pangan nasional” tegas Ahmad Rizal Ramdhani.
Sesuai pengarahan Kementan, ungkapnya, apabila rencana ekspor terealisasi,volumenya sekitar 1 juta ton. Harga jualnya, ujar dia, berpatokan pada skema dan perkembangan kondisi pasar global.
Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, negara tujuan ekspor beras masih dalam tahap pembahasan. Kemungkinan besar, sambung dia, negara-negara tujuan ekspor adalah negara tetangga atau yang memang sangat membutuhkan komoditas tersebut.
“Mungkin saja ekspor ke Timor Leste, Papua Nugini, atau Malaysia. Yang pasti, kami siap melakukan ekspor sesuai dengan pengarahan pemerintah, yaitu presiden dan Kementan,” paparnya.
Agar rencana ekspor terwujud dan menuai hasil optimal, Ahmad Rizal Ramdhani menuturkan, secara intensif, pihaknya terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan sejumlah pihak. Di antaranya, sebut dia, Kementerian Perdagangan (Kemendag). (win/*)














