PENTAS TV – BANDUNG, Demi tetap bergeliatnya perekonomian nasional, lembaga-lembaga negara terus menyusun dan mengimplementasikan rencana-rencana serta strategi-strateginya. Seperti yang dilakukan Bank Indonesia (BI)..

Agar ekonomi nasional tetap dan lebih menggeliat, khususnya, sektor keuangan, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Februari 2026, BI memutuskan unik tidak mengubah suku bunga acuan, yakni tetap pada level 4,75 persen.

Putusan lainnya, bank sentral di Bumi Nusantara ini juga menetapkan suku bunga deposit facility dan lending facility yang juga tidak mengalami perubahan. Artinya, posisi suku bunga deposit facility dan lending facility berdasarkan hasil RDG tersebut, masing-masing tetap pada level 3,75 persen serta 5,50 persen.

Kepada media, Perry Warjiyo, Gubernur BI, menjelaskan, penetapan tentang tidak berubahnya suku bunga acuan, termasuk deposit facility dan lending facility menunjukkan konsistensi jajarannya yang fokusnya tidak hanya menggairahkan ekonomi, tetapi juga memperkuat stabilitas kurs rupiah.

Lalu, bagaimana soal penyaluran kredit perbankan?

Perry Warjiyo mengungkapkan, pada bulan perdana 2026, penyaluran kredit perbankan nasional menggeliat 9,96 persen secara tahunan.

Perkembangan itu, lanjutnya, lebih baik daripada penyaluran kredit pada akhir Desember 2025, yang menggeliat 9,69 persen secara tahunan.

Penopangnya, jelas dia, penyaluran kredit investasi dan kredit modal kerja, yang secara tahunan, masing-masing melejit 22,38 persen serta 4,13 persen.

“Penyaluran kredit konsumsi pun menunjukkan pergerakan positif, yakni bertambah 6,58 persen secara tahunan,” tutur Perry Warjiyo.

Terjadinya perkembangan positif sejumlah aktivitas perekonomian, kebijakan moneter yang lebih longgar, dan makro-prudensial BI, kata dia, juga menopang bergairahnya penyaluran kredit perbankan.

Melihat perkembangan tersebut, Perry Warjiyo memprediksi bahwa penyaluran kredit perbankan berprospek untuk terus berkembang.

Pasalnya, terang dia, permintaan yang punya potensi berkembang. Terlebih, sahutnya, masih tersedianya Undisbursed Loan atau fasilitas kredit yang belum termanfaatkan bernilai Rp2.506,47 triliun, setara 22,65 persen plafon.

Selain itu, tambahnya, rasio Alat Likuid Dana Pihak Ketiga AL-DPK, yakni 27,54 persen. “Hal itu belum termasuk pergerakan pengelolaan DPK oleh perbankan, yang pada Januari 2026, melejit 13,48 persen secara tahunan.

Bergeliatnya penyaluran kredit perbankan pada awal 2026 itu, imbuh dia, diimbangi oleh pergerakan positif rasio Non-Performing Loan (NPL).

“Posisi NPL Gross pada Desember 2025, yakni 2,05 persen. Sedangkan rasio NPL Net yaitu 0,79 persen,” tutup Perry Warjiyo. (win/*)