Supaya Distribusi Beras SPHP Lebih Moncer dan Masif, Bulog Terapkan Skema Baru Bagi Pengecer

0
Jejeran beras SPHP pada sebuah pasar moderen atau peritel. (Instagram)

PENTAS.TV – BANDUNG, Pemenuhan kebutuhan pangan adalah elemen sangat krusial. Terlebih, pemerintah mencanangkan Indonesia sebagai negara swasembada pangan.

Karena itu, melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pangan, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), pemerintah menggulirkan sejumlah program. Di antaranya, Program Beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Seperti apa perkembangannya?

Kepada media, Ahmad Rizal Ramdhani, Direktur Utama Perum Bulog, mengungkapkan, hingga 25 Agustus 2025, pendistribusian Beras SPHP, rata-rata sebanyak 8 ribu ton per hari.

Agar lebih terakselerasi, Perum Bulog menyiapkan jurus baru, khusus bagi para pengecer.

Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, pola dan inovasi baru itu tentang cara pemesanan. “Para pengecer dan pedagang, khususnya yang berusia lanjut, melakukan pemesanan melalui aplikasi WhatsApp,” tandas Ahmad Rizal Ramdhani.

Penggunaan WhatsApp saat pemesanan, jelasnya, untuk mempermudah para pengecer dan pedagang berusia lanjut, yang memang kurang memahami sistem dan aplikasi digital.

Dia meneruskan, pada masa mendatang, pihaknya pun berkomitmen untuk terus mempermudah para pengecer atau pedagang, utamanya yang berusia lanjut, ketika mempergunakan aplikasi digital Klik SPHP.

Ahmad Rizal Ramdhani berkisah tentang kesulitan para pengecer dan pedagang berusia lanjut menggunakan aplikasi Klik SPHP.

Dia menuturkan, ketika ke Semarang bersama Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian, pihaknya bertemu sejumlah pedagang dan pengecer berusia lanjut. Rata-rata , kata dia, mereka berusia 70- an tahun.

“Jangankan menggunakan aplikasi digital, menggunakan ponsel (telepon seluler) saja tidak bisa,” ujarnya.

Agar mempermudah para pengecer dan pedagang berusia lanjut enggunaan WhatsApp saat pemesanan, Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan, pihaknya menempatkan petugas pada setiap pasar.

Fungsinya, sahut dia, mengkoordinir pemesanan para pedagang dan pengecer. Hal itu, ujarnya, agar setiap transaksi pemesanan oleh para pengecer dan pedagang tetap terdata.

Mekanismenya, beber Ahmad Rizal Ramdhani, ada semacam surat kuasa para pengecer dan pedagang bagi petugas yang menerima mandat sebagai koordinator.

“Itu demi keabsahan pemesanan selain itu juga sebagai upaya untuk mencegah terjadinya penyelewengan pendistribusiannya (Beras SPHP),” urainya

Penggunaan WhatsApp itu pihaknya ajukan kepada Bapanas. Pengajuan itu terangnya, supaya ada perevisian kebijakan sehingga memudahkan para pedagang dan pengecer berusia lanjut.

“Juga supaya teknis pendistribusian (Beras SPHP) di pasar tradisional lebih tertata dan tertib,” tukasnya. (win/*)