PENTAS.TV, Landak adalah hewan pengerat (Rodentia) yang memiliki bulu tebal dan duri tajam. Hewan ini dapat ditemukan di Asia, Afrika, dan Amerika, dengan penyebaran yang lebih umum didaerah tropis. Landak merupakan hewan pengerat terbesar ketiga berdasarkan ukuran, setelah kapibara dan biwara. Secara fisik, landak cenderung memiliki bentuk yang “membulat” dan tidak secepat tikus. Landak banyak ditemukan di hutan, dataran rendah, kaki bukit, dan area pertanian.
Di Indonesia, terdapat lima spesies landak yaitu, landak ekor panjang (Trichys Fasciculata), landak raya (Hystrixbrachyura), landak Sumatera (Hystrix Sumatera), landak jawa (Hystrix Javanica), dan landak butun (Hystrix crassispinis).
Landak jawa, landak yang sering diburu karena merusak tanaman dan dagingnya yang dapat dijadikan sate di beberapa tempat. Landak jawa ditemukan di hutan dan area pertanian, ciri khasnya adalah rambut halus dan duri di seluruh tubuhnya, yang berfunsi sebagai pelindung dan alat pertahanan. Duri ini bisa ditegangkan dan terlepas saat terancam, lalu diganti dengan yang baru. Landak ekor panjang menyerupai tikus, berukuran 1,5-2,3 kg dan panjang 27,9-48 cm.
Landak malaya, landak yang sulit ditemukan karena aktif malam hari. Mereka berukuran besar dan memiliki duri yang berubah dari bulu menjadi duri saat dewasa. Sebagai salah satu spesies landak yang berukuran terbesar di Asua Tenggara, landak malaya dianggap sebagai satwa pengerat bertubuh besar, dengan ukuran panjang sekitar 63 s.d 72 cm dan bobot sekitar 0,7 kg s.d 2,4 kg. Tubuh bagian depannya berwarna cokelat gelap hingga hitam, sedangkan tubuh bagian belakangnya tertutup bulu duri yang panjang, tajam, dan kaku, yang sebernarnya adalah bulu rambut yang mengalami perubahan. Bulu duri ini kerap berwarna hitam dan putih, atau cokelat gelap dan putih.
Landak Sumatera aktif di malam hari, bersarang di hutan hujan tropis, duri-duri landak ini bisa mencapai panjang 16 cm. dan Landak butun sangat jarang ditemui, dengan hampir seluruh tubuhnya dipenuhi duri tajam sebagai alat pertahanan. Kerberadaan duri ini sangat penting bagi landak karena sebagai alat pertahanan diri dari serangan musuh. Bahkan durinya tersebut berguna sebagai senjata untuk menyerang.
Landak, yang secara umum tergolong herbivora, lebih menyukai konsumsi daun, batang, dan khususnya bagian kulit kayu. Hal ini membuat mereka sering dianggap sebagai hama yang merusak tanaman pertanian. Namun, di sisi lain, landak juga menjadi sumber pangan yang diminati, salah satunya dalam bentuk sate landak yang merupakan hidangan khas dari kabupaten karanganyar.
Di Asia Tenggara, terutama di Vietnam, landak sangat populer dan banyak di manfaatkan sebagai sumber makanan, yang berkontribusi pada penurunan signitifijan populasi mereka. Selain itu, bulu dan duri landak juga digunakan dalam pakaian dekoratif tradisional. Duri utama dapat dicelup dan dipadukan dengan benang untuk mempercantik aksesoris kulit seperti sarung pisau dan tas.
Perempuan suku Lokata di Ameraka, akan memanen duri untuk pekerjaan bulu dengan melemparkan selimut di atas landak dan mengambil duri yang tersisa tersangkut di selimut. Kehadiran duri ini, yang berfungsi seperti jangkar, membuat proses pengambilan duri menjadi lebih menyakitkan. Bentuk duri yang tajam ini juga menginspirasi penelitian untuk aplikasi medis, seperti desain jarum suntik dan staples bedah yang lebih efisien.
Sebagai mamalia, landak melahirkan anak. Masa kebuntingan mereka berlangsung sekitar 112 hari, yang relatif panjang untuk ukuran mereka, dan selama periode ini induk landak mengalami perubahan fisik untuk mempersiapkan kelahiran. Mereka biasanya melahirkan antara 2 hingga 4 anak dalam satu kali kehamilan, dan lebih memilih lokasi yang sederhana seperti tumpukan daun atau lubang pohon untuk melahirkan, yang memberikan perlindungan dari predator.
Induk landak dengan penuh kasih menyiapkan sarang dengan bahan-bahan lembut untuk kenyamanan bayi mereka. Salah satu aspek menarik dari kelahiran landak adalah kondisi duri bayi yang baru lahir. Berbeda dengan yang dibayangkan, duri bayi landak pada saat lahir masih lembut dan fleksibel, yang memungkinkan kelahiran yang aman tanpa melukai induknya. Duri ini akan mengeras dan menjadi tajam dalam beberaoa jam setelah kelahiran, memberi bayi landak perlindungan yang penting untuk bertahan di alam liat.
Adaptasi ini menunjukan keajaiban evolusi dalam spesies ini. Induk landak berperan penting dalam merawat dan melindungi bayinya, memberikan kehangatan, nutrisi, dan bimbingan saat bayi mulai menjelajahi dunia di sekitarnya. Meskipun memiliki penampilan yang tangguh, landak menunjukan kasih sayang yang mendalam kepada anak-anaknya, menciptakan keseimbangan antara naluri bertahan hidup dan kasih sayang di alam liar.
Umur rata-rata landak liar berkisar antara 5 higga 6 tahun, sedangkan landak yang di penangkaran bisa hidup hingga 10 tahun. Landak Jawa yang tergolong berisiko rendah menurut IUCN, kini menjadi salah satu kulinere ekstrem yang populer di Jawa Timur dan Jawa Tengah.(GIH/*)

