PENTAS.TV – BANDUNG, Sudah semestinya, korporasi-korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) senantiasa membukukan performa dan kinerja apik.
Hal itu dibuktikan oleh catatan cemerlang perbankan pelat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara), PT Bank Mandiri Tbk (Persero).
Dalam pemaparan kinerja Triwulan I 2026, perbankan berkode emiten BMRI tersebut menorehkan performa apik yang membuat mereka semakin tajir. Perbankan berlogo pita emas tersebut meraup laba bernilai super jumbo.
Kepada media, Riduan, Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (Persero), menginformasikan, pada Triwulan I 2026 berakhir, pihaknya membukukan laba bernilai masif, yakni bernominal Rp15,4 triliun.
“Nilai perolehan laba tersebut, secara tahunan, bertambah 16,7 persen apabila perbandingannya dengan pencapaian akhir triwulan pertama 2025,” tandas Riduan.
Dia meneruskan, selain perolehan laba, indikator kinerja apik lainnya yaitu sangat masifnya penyaluran kredit.
Ketika periode Maret 2026 usai, sambungnya, pihaknya secara total, pihak ya menyalurkan kredit atau pembiayaan bernilai Rp1.530 triliun, lebih banyak 17,4 persen daripada periode sama 2025.
Melejitnya penyaluran kredit tersebut, jelasnya, bukan tanpa sebab. Pihaknya, ungkap dia, fokus pada aktivitas-aktivitas ekonomi yang riil, terutama berbagai sektor produktif plus padat karya.
Soal Kredit Usaha Rakyat (KUR), sebagai perbankan mitra pemerintah, Riduan menyatakan, pihaknya pun getol menyalurkannya.
Saat periode akhir Maret 2026 tiba, ucapnya, penyaluran KUR berada pada level Rp11 triliun. “Jumlah debiturnya melebihi 87 ribu pelaku UMKM (Usaha Mikro-Kecil-Menengah) sektor-sektor produktif,” beber dia.
Tidak itu saja, pencapaian yang tidak kalah pentingnya, tegas Riduan, adalah semakin kuat dan besarnya kepercayaan masyarakat.
Patokannya, sahut dia, yakni bertambah banyaknya nominal Dana Pihak Ketiga (DPK) yang pihaknya kelola hingga akhir Maret 2026.
Saat berakhirnya periode triwulan pertama 2026, beber dia, pihaknya mengelola DPK bernilai total Rp1.675 triliun. Perbandingannya dengan realisasi triwulan I 2025, sambungnya, bertambah 21,1 persen.
Komposisi terakbar DPK, kata dia, yakni Current Account-Saving Account (CASA) alias dana murah,yang meliputi tabungan dan giro. Nominalnya, sebut dia, bertambah 12,7 persen secara tahunan atau menjadi Rp1.201 triliun.
Sisanya, kata Riduan, sekitar Rp474 triliun, meliputi dana mahal, yang antara lain, berupa deposito. (win/*)

