PENTAS.TV – BANDUNG, Sejak bergulirnya agenda global yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan, Net Zero Emissions (NZE), pemerintah mencanangkan sebuah target, yakni terealisasi pada 2060.
Demi terealisasinya NZE 2060, pemerintah menggulirkan program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).
Karena itu, bersama lembaga-lembaganya, termasuk korporasi-korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang satu di antaranya adalah PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero), pemerintah berinisiatif untuk membangun serta membentuk ekosistem Electric Vehicle (EV) alias kendaraan listrik.
Lalu, seperti apa perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Jabar?
Sugeng Widodo, General Manager PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jabar, mengklaim bahwa perkembangan EV di Tatar Pasundan menunjukkan hal positif.
Satu indikatornya, kata dia, tercermin pada realisasi transaksi pengisian daya pada seluruh jaringan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) selama periode Idul Fitri 2026.
“Selama momen Idul Fitri 2026, terjadi 74.366 transaksi pengisian daya EV pada seluruh jaringan SPKLU di Jabar,” tandas Sugeng Widodo, di tempat kerjanya.
Sugeng Widodo meneruskan, volume transaksi pengisian daya pada SPKLU tersebut lebih banyak hampir 300 persen daripada momen sama 2025, yang jumlahnya 17.966 transaksi.
Mengacu pada realisasi pengisian daya pada seluruh SPKLU tersebut, Sugeng Widodo menyatakan, kondisi itu menggambarkan bahwa masyarakat merespon hadirnya kendaraan berbasis elektrik, baik EV maupun sepeda motor listrik (molis) secara positif.
Sattu faktor semakin positifnya respon publik Jabar atas hadirnya EV, sambung dia, yakni bertambahnya pemahaman bahwa penggunaan kendaraan elektrifikasi lebih efisien daripada kendaraan berbasis Internal Combusted Engine (ICE) atau berpembakaran internal yang mengandalkan Bahan Bakar Minyak (BBM)
Secara keseluruhan, kata Sugeng Widodo, pada Triwulan I 2026, di Jabar, transaksi 825 SPKLU berjumlah 19.500 transaksi.
Penjualan dayanya, sambung dia, yakni 56,84 ribu Kilo Watt-hour (KWh). “Nominalnya, Rp1.086 miliar,” ujar Sugeng Widodo.
Krisantus H Setiawan, Senior Manager Komunikasi dan Umum PT PLN (Persero) UID Jawa Barat, menimpali, sebenarnya, sinyal bergeliatnya kendaraan listrik di Bumi Parahyangan terjadi sejak sekitar 6-7 tahun silam.
Bahkan, kata dia, pihaknya memperoleh informasi bahwa momen awalnya, pada 2015, tatkala hadirnya model berkonsep Plug-In Hybrid Electric Vehicle (PHEV).
“Perkembangannya semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan kemunculan beragam varian dan model elektrifikasi secara lebih masif,” paparnya.
Tentu saja, tegas dia, sebagai korporasi BUMN yang secara otomatis merupakan mitra sinergis pemerintah, pihaknya sangat berkomitmen untuk senantiasa turut mengakselerasi terbentuknya ekosistem kendaraan listrik.
Caranya, beber dia, melalui penyediaan fasilitas-fasilitas dan infrastruktur pendukungnya, yang antara lain berupa aktivasi SPKLU-SPKLU di berbagai kota-kabupaten se-Jabar. (win)

