Pentas.TV-Bandung, Di pusat Kota Bandung, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang tidak hanya menjadi saksi perjalanan waktu, tetapi juga menyimpan ingatan kolektif bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Savoy Homann merupakan hotel bergaya art deco yang ikonik, sekaligus ruang hidup yang terus terhubung antara masa lalu dan masa kini.
Keberadaan hotel ini semakin dikenal dunia setelah pelaksanaan Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955. Sejak saat itu, Savoy Homann tidak hanya menjadi hotel bersejarah di Bandung, tetapi juga simbol penting bagi puluhan negara di Asia dan Afrika yang pernah terlibat dalam peristiwa bersejarah tersebut.
Dengan bangunan megah dan pelayanan profesional, Savoy Homann tetap menjadi salah satu hotel favorit di Bandung. Banyak wisatawan datang tidak hanya untuk menginap, tetapi juga untuk merasakan langsung atmosfer sejarah yang masih terasa kuat hingga kini.
Menurut Yuke, Marketing Communication Hotel Savoy Homann, salah satu daya tarik utama hotel ini adalah nilai historisnya sebagai tempat menginap para pemimpin dunia saat Konferensi Asia Afrika. Bahkan, salah satu kamar di hotel ini pernah ditempati oleh Proklamator Indonesia, Soekarno.
Jejak sejarah para tokoh dunia tersebut masih dapat dilihat dan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan, terutama pada akhir pekan ketika tingkat kunjungan meningkat.
Yuke juga menjelaskan bahwa banyak tamu dari luar Kota Bandung datang khusus untuk menikmati wisata heritage di kawasan Jalan Asia Afrika. Mereka ingin menelusuri sejarah dan merasakan langsung suasana hotel yang pernah menjadi tempat singgah para pemimpin dunia.
Hotel ini kini tidak hanya berfungsi sebagai akomodasi, tetapi juga sebagai destinasi wisata sejarah yang memiliki nilai edukasi tinggi.
Drs. Hilwan Shaleh, yang pernah bekerja di hotel tersebut bersama Francis, turut mengenang masa tugasnya di Savoy Homann. Ia menyebut pernah terlibat dalam sebuah gagasan yang hingga kini masih dapat dilihat, yaitu replika mobil tua tahun 1930 dengan nomor khusus yang menjadi bagian dari koleksi sejarah hotel.
Hal ini menunjukkan bahwa Savoy Homann tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga terus menghidupkannya melalui berbagai bentuk pelestarian.
Humas Bandung Heritage, Sulhan Syafe’i atau Aan, menegaskan pentingnya peringatan Konferensi Asia Afrika sebagai bagian dari edukasi sejarah bagi masyarakat.
Menurutnya, konferensi tersebut memiliki dampak besar karena menjadi titik awal kemerdekaan bagi banyak negara di Asia dan Afrika. Bandung pun dikenal sebagai simbol perjuangan dan “mercusuar” bagi negara-negara yang sedang menuju kemerdekaan.
Kegiatan peringatan ini juga melibatkan kunjungan ke sejumlah lokasi bersejarah seperti Savoy Homann dan Kopi Aroma, dengan peserta terbatas untuk menjaga kualitas kegiatan.
Mrs. Frances Effendi yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa dirinya menyaksikan langsung perubahan yang terjadi di Hotel Savoy Homann dari waktu ke waktu.
Meski beberapa bagian telah mengalami renovasi, bangunan utama tetap dipertahankan untuk menjaga nilai sejarahnya. Koleksi dan memorabilia yang dipajang di hotel ini menjadi bukti kontribusi Savoy Homann dalam berbagai peristiwa penting di tingkat nasional maupun internasional.
Savoy Homann bukan sekadar hotel mewah di Jalan Asia Afrika, tetapi juga merupakan ikon sejarah yang terus hidup hingga saat ini. Dengan keterkaitannya pada Konferensi Asia Afrika dan tokoh penting seperti Soekarno, hotel ini menjadi destinasi wisata heritage yang bernilai tinggi di Bandung.
Bagi wisatawan, Savoy Homann bukan hanya tempat menginap, tetapi juga pengalaman menyelami sejarah dunia yang masih terjaga dengan baik.(Aan/*)

