Pentas.TV, Baning cokelat (Manouria Emys) adalah salah satu jenis kura-kura darat yang termasuk dalam keluarga Testudinidae. Hewan ini tersebar di wilayah Asia Selatan hingga Indonesia, dan sering ditemukan di hutan serta daerah dataran yang memiliki ketinggian sedang. Kura-kura ini cenderung menyukai area yang lembap dan kerap terlihat berendam di sungai dangkal atau mengubur dirinya di tanah yang basah.
Terdapat dua subspesies dari Monouria emys, yaitu Manouria emys emys yang tersebar di Thailand selatan, Malaysia, dan Indonesia (Terutama di Sumatera dan Kalimantan), dan Manoruia emys phayrei yang hidup di wilayah Thailand barat laut, Burma, Bangladesh, dan India timur laut.
Monouria emys emys sering disebut sebagai kura-kura cokelat Asia, sedangkan Manouria emys phayrei lebih dikenal sebagai kura-kura cokelat Burma. Kura kura cokelat Burma memiliki ukuran yang lebih besar, dengan panjang tubuh mencapai 60 cm dan berat hingga 37 kg, serta warna yang lebih gelap dibandingkan subspesies lainnya.
Manouria emys bergerak dengan lambat, bahkan ketika berada dalam bahaya. Spesies ini lebih aktif pada sore hari atau saat cuaca tidak terlalu panas di siang hari. Jika suhu terlalu tinggi, kura-kura ini cenderung menggali tanah lembap dan mengubur dirinya dalam dedaunan. Kura kura ini juga sering terlihat berendam di kolan atau sungai kecil.
Kerapas atau cangkang punggungnya berbentuk melengkung tinggi, dengan keping vertebral yang memiliki lebar hampir sama dengan keping kostal. Bentuk keping-keping vertebralnya juga seragam, kecuali pada keping vertebral kelima yang melebar di bagian belakang. Keping marginal di sekitar bagian kaki belakangnya datar dan agak melengkung ke atas.
Baning cokelat memiliki kaki yang besar dan mirip kaki gajah, dengan jari-jari yang tidak begitu terlihat jelas. Kaki belakangnya memiliki lima cakar, sedangkan kaki depannya memiliki empat cakar yang meruncing. Sisik di kaki kura-kura ini juga menebal seperti kuku berperisai. Perbedaan antara janran dan betina dapat dilihat dari ekornya, di mana jantan memiliki ekor yang lebih panjang dan tebal, serta plastra yang cekung, yang berguna saat proses perkawinan.
Sebagian besar makanan baning cokelat berupa tumbuhan, seperti rumput, sayur-sayuran, daun, dan buah-buahan. Meskipun begitu, pada kesempatan tertentu mereka juga memakan hewan kecil seperti invertebrata dan amfibi, termasuk siput, cacing, dan hewan kecil lainnya.
Ketika baning cokelat menggelengkan kepala, itu merupakan salah satu bentuk komunikasi sosial dan ritual pacaran pada kura kura tersebut. Ada dua jenis gelengan kepala, yaitu gelengan horizontal dan gelengan yang terangkat. Gelengan kepala ini tidak terbatas pada jenis kelamin tertentu, dan dapat digunakan untuk berinteraksi dengan lawan jenis. Namun, selama proses pacaran, betina biasanya tidak membalas gelengan kepala dari jantan.
Selain gelengan kepala, baning cokelat juga berkomunikasi melalui suara. Jantan sering mengeluarkan suara berupa gerutuan atau teriakan berirama, terutama saat sedang dalam proses pacran. Suara kawin yang dihasilkan oleh kedua jenis kelamin biasanya disertai dengan gerakan kepala.
Salah satu perilaku khas jantan adalah “trailing” yaitu mengikuti betina dari belakang dengan sangat dekat. Jika betina berhenti, jantan akan mencoba menaikinya. Jika betina terus bergerak. Jantan akan menggigitnya agar betina berhenti. Baik jantan maupun betina akan mengeluarkan suara selama proses pacaran ini.
Jumlah telur yang dihasilkan kura-kura baning cokelat ini berkisar antara 21 hingga 53 butir, masa inkubasi telur berlangsung antara 63 hingga 84 hari, dan proses ini biasanyta dilakukan secara buatan di tempat penangkaran.
Betina baning cokelat merawat telurnya setelah bertelur. Sebelum bertelur, betina akan mengumpulkan daun dan tanah untuk membuat gundukan tempat ia akan meletakan telurnya. Sete;ah bertelur, betina akan menutupi telur-telur tersebut dengan tumbuhan dan serasah, serta menjaga sarangnya dari pemangsa dengan cara mengusir atau bahkan menggigit.
Baning cokelat dapat hidup hingga usia 35 tahun, Dengan perawatan yang baik dan hidup dilingkungan yang terlindungi, umur kura-kura ini bahkan bisa lebih panjang.
Di beberapa bagian Asia, kura-kura cokelat dieskploitasi untuk keperluan makanan dan obat-obatan. Selain itu, kerusakan habitat dan perdagangan hewan peliharaan juga mengancam populasi mereka. Akibatnya, kura-kura cokelat kini dinyatakan berstatus terncam kepunahan (Endangered) oleh IUCN. (Aan/*)

