
PENTAS.TV – BANDUNG, Masih berlangsungnya konflik geopolitik di Timur Tengah, sangat berpengaruh pada perekonomian Indonesia.
Satu buktinya, akibat agresi terbaru Zionis Israel kepada Iran, rupiah semakin tidak berdaya.
Pada sesi penutupan perdagangan, 8 Juni 2026 petang, rupiah terpuruk. Posisinya negatif 152 poin atau menjadi Rp18.189 per dolar Amerika Serikat (AS).
Posisi rupiah sebelumnya, masih lebih baik 0,84 persen atau pada level Rp18.036 per dolar AS.
Pergerakan negatif rupiah pun terjadi pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI).
Hasil transaksi perdagangan JISDOR 8 Juni 2026, pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp18.171 per dolar AS. Sebelumnya, posisi rupiah berdasarkan kurs JISDOR yaitu Rp18.039 per dolar AS.
Dalam keterangannya, Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang, berpendapat, selain agresi zionis Israel, ada aspek lain yang menyebabkan rupiah terkulai.
Yakni putusan The Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral AS yang tidak mengubah, bahkan menambah level suku bunga acuannya.
Pemicunya, jelas dia, terbitnya pelaporan data Non-Farm Payroll (NPF) yakni sebanyak 172 ribu pekerjaan, melebihi ekspektasi, yang jumlahnya 85 ribu pekerjaan.
The Fed berargumen, kebijakannya soal suku bunga acuan tersebut didasari adanya pertimbangan tentang dampak inflasi harga energi. (win/*)

