
PENTAS.TV – BANDUNG, Selama beberapa dekade, publik Kota Bandung, baik yang berangkat maupun tiba di Kota Kembang menggunakan bus dari wilayah timur, menjejakkan kakinya di Terminal Cicaheum.
Namun, sejak 26 Mei 2026, kiprah dan riwayat Cicaheum sebagai titik keberangkatan dari Bandung menuju wilayah timur Jawa, termasuk kedatangannya, berakhir.
Otomatis, terminal legendaris itu tidak lagi melayani jasa transportasi bus Angkutan Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP). Seluruh aktivitas bus relasi wilayah timur Jawa, kini terkonsentrasi di Terminal Leuwipanjang.
Berakhirnya kiprah Terminal Cicaheum termasuk dalam rancangan dan rencana akbar Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung berkenaan dengan transformasi sektor transportasi massal.
Rencananya, Terminal Cicaheum punya peran baru. Yaitu, sebagai depo armada Bus Rapid Transit (BRT), yang merupakan proyek pemerintah pusat guna mengantisipasi sekaligus mengurai kepadatan serta kemacetan arus lalu lintas, khusus ya, wilayah Bandung Raya.
Kepada media, Asep Supriadi, Kepala Terminal Cicaheum, mengiyakan adanya penghentian aktivitas dan operasional tersebut.
“Pengosongan kami terapkan setelah menerima surat edaran pemerintah pusat,” tegas Asep Supriadi.
Berdasarkan pembahasan rapat, tuturnya, seluruh aktivitas dan operasional armada, baik bus AKDP maupun AKAP, beralih ke Terminal Leuwipanjang.
Secara keseluruhan, lanjut Asep Supriadi, sekitar 85-100 armada bus AKDP dan AKAP mengalami migrasi ke Terminal Leuwipanjang.
Beberapa jalur atau rute favorit di Terminal Cicaheum, ungkapnya, kini steril. Di antaranya, sebut dia, rute Bandung-Garut.
Meski begitu, lanjutnya, pada masa transisi ini, masih ada aktivitas dan pelayanan bus reguler yang bersifat terbatas di terminal kawasan timur Kota Bandung ini.
Itu terjadi, dalihnya, masih ada calon penumpang yang belum mengetahui penghentian operasional tetapi kadung tiba di Terminal Cicaheum.
Agar informasi tentang penghentian operasional Terminal Cicaheum lebih tersosialisasikan sekaligus meminimalisir penumpukan penumpang, Asep Supriadi mengatakan, pihaknya memanfaatkan pengeras suara secara optimal.
Selama proses pengalihan dan masa transisi, Asep Supriadi mengatakan, pihaknya masih memberi sedikit keleluasaan bagi armada berukuran lebih kecil, yakni mikro-bus atau lebih beken dalam istilah Elf.
Sebagai informasi, istilah Elf merupakan sebuah brand otomotif asal Jepang yang merupakan produk PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Agenda Pemegang Merek Isuzu Motors Limited (Ltd), yaitu Isuzu Elf. (win/*)

