
PENTAS.TV – BANDUNG, Sebagai korporasi public service berlabel Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) sangat berkomitmen untuk melayani dan mengakomodir kebutuhan transportasi masyarakat secara sempurna, prima, dan optimal.
Di antaranya, terus berupaya menyempurnakan pelayanannya, terutama, berkenaan dengan keamanan, keselamatan , kelancaran, dan kenyamanan seluruh perjalanan.
Agar kesempurnaan pelayanan, termasuk keamanan, keselamatan , kelancaran, dan kenyamanan seluruh perjalanan, korporasi yang dahulu bernama Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) ini menyiapkan sebuah rencana.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Bobby Rasyidin, Direktur Utama PT KAI (Persero), mengungkapkan, demi kesempurnaan pelayanan, termasuk keamanan, keselamatan, kelancaran, dan kenyamanan perjalanan, pihaknya bersiap mengaktifkan inovasi terbarunya.
Yakni, beber dia, berupa The Automatic Train Protection (ATP) pada jaringan kereta konvensional.
Bobby Rasyidin menjelaskan, hingga kini, lapisan perlindungan terakhir sebuah perjalanan kereta konvensional yakni masinis.
Polanya, jelas dia, selama perjalanan, masinis senantiasa memperhatikan dan mengamati persinyalan
Berbeda dengan Light Rail Transit (LRT) atau Lintas Raya Terpadu. Rangkaian itu, jelasnya, kini, menerapkan teknologi bersistem The Grade of Automation (GoA) 3.
Sistem ini, terangnya, berupa level otomasi yang beristilah bekennya yaitu Driverless,, yakni berupa teknologi proteksi atas kemungkinan terjadinya benturan antar-kereta berbasis komputerisasi.
Karenanya, pada kereta konvensional, ungkap dia, pihaknya merencanakan aktivasi ATP demi kesempurnaan pelayanan, utamanya, berkaitan dengan keamanan, keselamatan, kelancaran, dan kenyamanan seluruh perjalanan.
Soal penerapan ATP, kata dia, ada dua hal yang masih menjadi pertimbangan jajarannya.
Yaitu, sebut dia, berupa teknologi konvensional berskema The Wayside dan The Onboard, yang mengandalkan pemasangan sensor rangkaian dan penerima perangkat sarana serta prasarana, yang penempatannya pada jalur kereta.
Namun, penerapan dan implementasi ATP, ujarnya, bukan perkara mudah karena memerlukan ketersediaan anggaran bernilai masif.
Pertimbangan lainnya, tambah dia, yakni teknologi berbasis satelit dan wireless. Yakni, sebutnya, The Future Railway Mobile Communication System (FRMCS).
Dalam RDP itu, Bobby Rasyidin juga berbicara tentang perlintasan sebidang. Dia mengatakan, saat ini, terdapat sebanyak 3.674 perlintasan sebidang.
Ia menambahkan, sebanyak 1.810 titik perlintasan kereta tanpa penjagaan petugas PT KAI (Persero).
“Di antara ribuan perlintasan sebidang tanpa penjagaan itu, ada 172 titik perlintasan yang lebar ruas jalannya tidak melebihi dua meter, ” ungkapnya .
Demi keamanan dan keselamatan, sahutnya, ke-172 perlintasan sebidang tersebut, pihaknya non-aktifkan.
Sedangkan tentang 1.638 perlintasan sebidang yang lebar ruas jalannya melebihi 2 meter, sambungnya, pihaknya merencanakan pemasangan dan pengaktifan perangkat pengaman guna mengantisipasi sekaligus meminimalisir kemungkinan terjadinya kecelakaan.
“Ruas jalan yang kerap mengalami kepadatan arus lalu lintas, kami mengajukan usul berupa pembangunan perlintasan tidak sebidang baik underpass maupun fly over,” paparnya.
Perkiraannya, tambah dia, ada sekitar 40 lokasi yang idealnya menjadi titik pembangunan underpass atau fly over.
Tentu saja, ujarnya, agar rencana penanganan 1.638 perlintasan itu terealisasi, pihaknya memerlukan biaya bernilai jumbo dalam bentuk Capital Expanditure (Capex) alias belanja modal, yakni bernominal sekitar Rp1,2 triliun.
“Kami juga membutuhkan Operational Expanditure (Opex) alias biaya operasional bernilai Rp700 miliar per tahun. Pemanfaatannya, bagi sebanyak 8.000 orang personil penjaga,” pungkasnya. (win/*)

