
PENTAS.TV – BANDUNG, Terjadinya kecelakaan maut melibatkan dua rangkaian kereta, Argo Bromo Anggrek Gambir-(Surabaya Pasarturi) dan Kereta Rel Listrik (KRL) relasi Kampung Bandan-Cikarang di Kilo Meter (KM) 28+920 emplasemen Stasiun Bekasi Timur belum lama ini, sangat mengejutkan dan mengenaskan.
Informasinya, dalam kecelakaan tersebut, belasan orang meninggal dunia. Selain itu, puluhan orang lainnya terluka.
Memang, dugaannya, sebelum benturan terjadi, KRL sempat menghantam sebuah kendaraan yang terindikasi adalah Taksi Green SM, yang kemungkinan besar, menerobos palang pintu perlintasan sebidang, yang lokasinya tidak jauh dari stasiun tersebut.
Pada saat KRL terhenti, pada jalur yang sama, meluncur Argo Bromo Anggrek. Tak ayal, benturan hebat terjadi.
Rumornya, Argo Bromo Anggrek tetapi melaju karena sinyal menunjukkan lampu hijau, pertanda kondisi jalur aman.
Berkenaan dengan tragedi itu, , kabarnya, PT Len Industri (Persero) turut menginvestigasi, utamanya mengenai sistem persinyalan.
Pasalnya, persinyalan kereta merupakan satu di antara sekian banyak produk teknologi buatan PT Len Industri (Persero), melalui anak usahanya, yakni PT Len Railways System (LRS).
Sayangnya, PT Len Industri (Persero) belum berbicara banyak soal persinyalan, yang berkaitan dengan tragedi Argo Bromo Anggrek.
“Wah, kalau soal itu (tragedi Argo Bromo Anggrek), kami masih menunggu hasil investigasi KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi),” ujar Restina Anggraeni, Senior General Manager (GM) Corporate Secretary PT Len Industri (Persero), di Hotel Mitra, Jalan Supratman Bandung.
Wanita berambut lurus dan panjang ini pun belum berkomentar tentang ada tidaknya uji coba persinyalan kereta beserta hasilnya ketika terjadi insiden seperti di emplasemen Stasiun Bekasi Timur tersebut.
Meski demikian, Restina Anggraeni menuturkan, pihaknya melalui LRS, menangani proses maintenance KRL hingga 2024.
Selanjutnya, kata dia, penanganannya oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) dan lembaga yang berkaitan lainnya. (win)

