Rupiah Lesu,  Mungkinkah Perbankan Alami Rush? OJK Bilang Ini

Publikasi:

Kantor pusat Bank BJB. (Instagram)

PENTAS.TV – BANDUNG, Perkembangan ekonomi nasional, saat ini, memang belum stabil. Satu indikatornya, kondisi nilai tukar rupiah yang lesu sebagai dampak terjadinya berbagai dinamika global, seperti konflik geopolitik di Timur Tengah.

Fakta bahwa lemahnya rupiah terlihat pada posisi terkini. Saat ini,  posisi nilai tukar rupiah menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Melihat kondisi tersebut, tidak tertutup kemungkinan muncul kekhawatiran terjadinya rush atau penarikan dana secara masif.

Akan tetapi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) justru melihat perbankan nasional masih stabil dan kondusif.

Pada jumpa pers Rapat Dewan Komisioner (RDK), Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, mengatakan, umumnya, terjadinya rush dipengaruhi kepercayaan masyarakat kepada sistem perbankan.

Karena itu, lanjut Dian Ediana Rae, agar tidak terjadi rush, industri perbankan wajib mempertahankan kepercayaan masyarakat melalui pola manajerial, kinerja, dan pelayanan yang tetap optimal.

Secara teori, ujarnya, memang, pergerakan negatif rupiah bisa berefek pada perkembangan harga beragam komoditas, utamanya produk-produk impor.

“Efek lainnya, buying power masyarakat turut terpengaruh. Selain itu, fiskal juga terbebani akibat biaya subsidi yang lumayan masif,” tandas mantan Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (Kpw) Jabar tersebut.

Walau demikian, kata dia, ada sisi positif di balik pergerakan negatif rupiah. Yaitu, jelas dia, memperkuat daya saing produk nasional pada level global.

Bicara soal kekhawatiran terjadinya rush, Dian Ediana mengatakan, kondisi perbankan nasional masih solid dan terkendali.

Indikatornya, tutur Dian Ediana Rae, rasio Posisi Devisa Net (PDN) periode April 2026, pada level 1,63 persen.  “Rasio aset valas (valuta asing) melebihi  kewajiban valas,” sambung dia.

Walau begitu, Dian Ediana Rae mengingatkan bahwa kemungkinannya, pergerakan negatif rupiah masih berpotensi berlanjut.

Jika hal itu terjadi, sambungnya, dampaknya,  eksposur debitur yang punya kerentanan perkembangan valas bisa terjadi.

Kondisi itu, imbuhnya, berpengaruh pada melemahnya kemampuan debitur sehingga risiko kredit pun bertambah.

Karena itu, sahut dia, pihaknya meminta kalangan perbankan agar tidak hanya ditopang struktur permodalan yang sehat dan kuat, tetapi juga memiliki kecukupan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN).

Apabila mengacu pada Capital Adequacy Ratio (CAR) setelah mengalkulasi pembagian dividen pada April 2026 yakni 23,97 persen, struktur permodalan perbankan masih solid.

“Kualitas kredit pun masih sehat. Posisi NPL (Non-Performing Loan) Gross dan Net, masing-masing ada level 2,17 persen serta 0,84 persen,” paparnya. (win/*)

Editor: erwin

Share post:

Subscribe

spot_img

Popular

More like this
Related

OJK Ungkap Bukti Solidnya Industri Asuransi: Asetnya Berlimpah

PENTAS.TV - BANDUNG, Selama beberapa waktu terakhir, perekonomian nasional...

Manchester United Usir Tiga Nama, Nomor Satu Eks Bintang Dortmund

PENTAS.TV - BANDUNG, Setelah mengalami periode super sulit ketika...

Depak Arne Slot, Liverpool Punya Juru Taktik Baru:: Andoni Iraola

PENTAS.TV - BANDUNG, Dalam dunia sepak bola, hasil minor...

Ederson Tuntas, Manchester United Uber Pilar West Ham: Mateus Fernandes

PENTAS.TV - BANDUNG, Agar tampil sebagai penantang serius perebutan...