PENTAS.TV – BANDUNG, Beberapa waktu lalu, beredar kabar bahwa Malaysia mengajukan permintaan impor beras kepada pemerintah. Informasinya, jika hal itu terealisasi, volumenya sekitar 200 ribu ton.
Tentu saja, pemerintah meresponnya secara positif. Sebagai korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pangan, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) siap mengeksekusi rencana ekspor tersebut.
Akan tetapi, tentunya, sebelum rencana ekspor itu terealisasi, perlu adanya kesepakatan, di antaranya mengenai harga.
“Rencana ekspor beras ke Malaysia masih kami negosiasikan. Belum ada kata sepakat,” tandas Ahmad Rizal Ramdhani, Direktur Utama Perum Bulog, dalam keterangannya.
Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan, dalam negosiasi itu, Malaysia mengajukan harga yang tidak sesuai dengan kualitas beras yang pihaknya tawarkan, yakni premium.
Sedangkan pengajuan harga oleh Malaysia, beber Ahmad Rizal Ramdhani, tidak melebihi Rp10.000 per kilo gram.
Mengacu pada kualitas dan jenis beras untuk ekspor ke Malaysia, yaitu premium, Ahmad Rizal Ramdhani menuturkan, pihaknya membandrolnya seharga Rp13.000-Rp14.000 per kilo gram.
Sebagai acuan, sambungnya, beras premium lokal berkandungan butir patah 15 persen pada level domestik yakni pada level Rp14.900 per kilo gram.
Beras premium yang pihaknya ajukan kepada Malaysia, tambah purnawirawan perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) ini, berkandungan butir patah 5 persen.
Lain halnya dengan beras medium. Ahmad Rizal Ramdhani melanjutkan, saat ini, harga beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang berkatagori medium, yaitu Rp12.500 per kilo gram.
Artinya, jelas dia, harga yang diajukan Malaysia lebih murah daripada harga beras medium. Karena itu, secara tegas, Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan, pihaknya menolak apabila harga yang diajukan Malaysia berpotensi merugikan. (win/*)

