PENTAS.TV – BANDUNG, Sejak bergulirnya agenda global yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan, Net Zero Emissions (NZE), banyak industri bertransformasi.
Antara lain, mengembangkan dan memanfaatkan Newable & Renewable Energy alias Energi Baru-Terbarukan (EBT). DI antaranya, melalui penggunaan listrik sebagai sumber energi.
Hal itu pun dilakukan banyak industri otomotif raksasa dunia. Satu di antaranya, Toyota Motor Corporation.
Di Indonesia, seiring dengan adanya NZE, pemerintah menargetkannya terealisasi pada 2060. Satu strateginya yakni membentuk ekosistem Electric Vehicle (EV) alias kendaraan listrik.
Sebagai produsen otomotif yang malang melintang di Indonesia, Toyota Motor Corporation pun getol bertransformasi produk.
Produsen otomotif berlogo The Triple Elips ini serius mengembangkan sistem elektrifikasi, baik full EV, Plug-In Hybrid Electric Vehicle (PHEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), Battery Electric Vehicle (BEV), termasuk New Energy Vehicle (NEV), demi terakselerasinya pembentukan ekosistem kendaraan listrik.
Ada bukti terbaru yang menunjukkan keseriusan Toyota Motor Corporation serius menggarap proyek kendaraan elektrifikasi di tanah air.
Melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), bersama produsen baterai berskala global asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), Toyota Motor Corporation sepakat memproduksi baterai Hybrid di Bumi Nusantara.
Informasinya, sinergi pengembangan baterai Hybrid di Indonesia oleh duet PT TMMIN-CATL tersebut bernilai triliunan rupiah.
Kepada media, Nandi Julyanto, Presiden Direktur PT TMMIN, mengemukakan, sinergi bernilai Rp1,3 triliun itu tidak hanya berdampak positif bagi jajarannya, yang hingga kini, mencatat volume produksi melebihi 10 juta unit, dan 3 juta unit di antaranya merupakan komoditas ekspor ke 100 negara lebih, tetapi juga tindak lanjut pertemuan di Jepang antara pemerintah dan Toyota Motor Corporation.
Dalam pertemuan itu, tuturnya, terjalin kesepakatan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai supply chain skala global dalam hal baterai.
Tidak itu saja, lanjutnya, sinergi dengan CATL pun untuk memperkokoh industri baterai lokal, terutama, yang berkaitan dengan komponen-komponen yang masih impor.
Ni Zheng, Executive President of Japan Business Group CATL, menambahkan, pihaknya sangat siap terlibat dalam proyek ini. Bahkan, tegas dia, pihaknya siap memulai fase produksi secara masif.
Satu bukti keseriusan dan kesiapan itu, tutur Ni Zheng, pihaknya menuntaskan berbagai-proses instalasi pada fasilitas di Karawang, termasuk uji coba yang berpatokan pada standar Toyota Motor Corporation level global. (win/*)

