PENTAS.TV – BANDUNG, Selama 12 bulan periode 2025, bagi industri otomotif nasional, ini merupakan momen yang berat dan penuh tantangan.
Indikatornya terlihat pada realisasi penjualan seluruh brand dan varian mobil yang mengalami kontraksi.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), secara wholesales, volume penjualan seluruh brand dan varian mobil selama 2025 berjumlah 803.687 unit.
Perbandingannya dengan 2024, volume penjualan mobil secara wholesales selama 2025, yang sebanyak 865.723 unit, tersebut terkoreksi 7,2 persen.
Lesunya perkembangan pasar otomotif, khususnya segmen mobil selama 2025, dirasakan Agen Pemegang Merek (APM) Daihatsu Motor Company, PT Astra Daihatsu Motor (ADM).
Melalui PT Astra International Tbk-Daihatsu Sales Operation (AI-DSO), PT ADM mencatat, bahwa selama 2025, volume penjualannya berjumlah 130.677 unit atau berkurang 19,8 persen secara tahunan.
Sedangkan selama 2024, performa dan kinerja penjualannya lebih baik. Yakni, berjumlah 163.032 unit.
Memang, memasuki 2026, kondisi pasar otomotif nasional, menunjukkan pergerakan yang lebih positif, meski belum signifikan.
Acuannya, selama dua bulan awal 2026, secara kumulatif , volume penjualan mobil berada pada level 145.228 unit.
Khusus produk-produk PT ADM, selama Januari-Februari 2026, PT AI-DSO menyatakan, realisasi penjualan berjumlah 25.965 unit, lebih baik daripada pencapaian periode sama 2025, yakni 21.942 unit.
Namun, jika mengacu pada terjadinya berbagai dinamika global, yang berimbas pada perekonomian nasional, tidak tertutup kemungkinan, pasar otomotif nasional kembali memperoleh tantangan berat
“Ada beberapa aspek yang menjadi tantangan berat pasar otomotif nasional pada tahun ini,” tandas Tri Mulyono, Marketing and Customer Relation Division Head PT AI-DSO, dalam keterangannya.
Antara lain, ujar Tri Mulyono, yakni suku bunga kredit yang relatif masih mahal dan disertai pemerperketatan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) oleh korporasi-korporasi multi-finance alias pembiayaan.
Tantangan berikutnya, kata Tri Mulyono, yakni perkembangan kurs rupiah, yang selama beberapa hari terakhir, menunjukkan pergerakan negatif.
“Bahkan, kurs rupiah sempat melewati level Rp17 ribu per dolar AS (Amerika Serikat),” tuturnya.
Pergerakan kurs rupiah itu, lanjutnya, bisa memicu bertambahnya cost production alias biaya produksi.
Penyebabnya, jelas dia, beberapa komponen masih bersifat impor. Efeknya, sahut dia, biaya produksi bertambah dan harga jual pun mengalami penyesuaian.
Kondisi tersebut, imbuh dia, memunculkan dampak lainnya. Yaitu, kata dia, berpengaruh pada buying power alias daya beli masyarakat. (win/*)














