Binturong (Arctictis binturong penicillatus) adalah satwa sejenis musang yang berasal dari keluarga Viverridae. Hewan ini sering disebut sebagai bearcat karena memiliki tampang yang menyerupai beruang kecil dengan ekor panjang, serta kumis lebat seperti kucing. Meskipun memiliki ciri-ciri menyerupai beruang dan kucing, binturong tidak termasuk dalam kedua keluarga tersebut. Julukan “bearcat” diberikan berdasarkan kemiripan fisik yang mencolok tersebut.
Binturong memiliki tubuh besar dengan bulu yang lebat. Warna bulunya umumnya hitam atau cokelat tua, terkadang terdapat warna keputihan di sekitar wajah dan tengkuk. Panjang tubuhnya berkisar antara 60 hingga 95 cm, belum termasuk ekor yang dapat mencapai panjang hingga 70 cm. Berat tubuhnya bervariasi antara 9 hingga 20 kg, tergantung jenis kelamin dan kondisi individu.
Binturong merupakan hewan nokturnal, yaitu aktif pada malam hari. Pada siang hari, mereka biasanya beristirahat di sarang atau di antara dahan pohon. Hewan ini juga bersifat arboreal, yang berarti sebagian besar waktunya dihabiskan di atas pohon. Binturong memiliki aroma khas menyerupai wangi pandan yang berasal dari kelenjar di bawah pangkal ekornya. Ekor mereka kuat dan berfungsi untuk membantu keseimbangan saat bergerak di pepohonan. Meskipun tergolong karnivora, binturong juga mengonsumsi buah-buahan dan tumbuhan.
Binturong betina dapat melahirkan 2 hingga 6 anak setelah masa kehamilan sekitar 91 hari. Anak binturong yang baru lahir akan berlindung di bulu induknya selama beberapa hari dan mulai disapih pada usia 6 hingga 8 minggu.
Habitat binturong berada di hutan hujan tropis dan subtropis di Asia Tenggara. Mereka hidup di hutan dengan kanopi lebat, seperti di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Di Indonesia, binturong tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Perbedaan antarwilayah dapat dilihat dari warna bulunya: binturong Jawa cenderung berwarna keabu-abuan, binturong Sumatra berwarna hitam pekat, sedangkan binturong Kalimantan memiliki wajah abu-abu dengan tubuh berwarna hitam.
Binturong termasuk hewan yang dilindungi di Indonesia. Penurunan populasinya disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kerusakan habitat akibat pembukaan lahan dan perambahan hutan. Selain itu, perburuan ilegal juga menjadi ancaman serius. Sebagian masyarakat menganggap binturong sebagai hewan peliharaan eksotis, sehingga banyak diburu untuk diperdagangkan, baik dalam bentuk hidup maupun bagian tubuhnya seperti bulu dan daging yang digunakan sebagai obat tradisional.
Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), binturong berstatus Vulnerable (VU), yang berarti berisiko mengalami kepunahan di alam liar di masa depan. Meskipun belum banyak diteliti dan jumlah populasinya di alam liar belum diketahui secara pasti, diperkirakan telah terjadi penurunan populasi lebih dari 30% dalam 18 tahun terakhir (setara tiga generasi).
Menjaga populasi binturong tidak hanya penting untuk melindungi spesies ini, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan meningkatkan kesadaran dan melakukan upaya pelestarian, kita dapat memastikan bahwa keanekaragaman hayati tetap terjaga bagi generasi mendatang.

