Jejak Sejarah Masjid Agung Bandung, Dari Bale Nyungcung hingga Ikon Asia Afrika

Publikasi:

Pentas.TV-Bandung, Di kawasan Alun-Alun Bandung yang selalu dipenuhi aktivitas warga dan wisatawan, berdiri megah Masjid Agung Bandung Provinsi Jawa Barat. Bangunan ini bukan hanya pusat ibadah umat Islam, tetapi juga saksi penting perjalanan sejarah Bandung sejak era kolonial hingga diplomasi dunia internasional.

Masjid yang pertama kali berdiri pada 1812 tersebut tumbuh bersamaan dengan lahirnya pusat Kota Bandung modern. Selama lebih dari dua abad, masjid ini mengalami berbagai perubahan arsitektur, mulai dari bangunan khas Sunda hingga desain megah bernuansa Timur Tengah yang dikenal masyarakat saat ini.

Ketua Nazir Masjid Agung Bandung, Rudi Wiranatakusumah, menyebut keberadaan masjid memiliki nilai sejarah besar bagi perkembangan Islam Sunda dan budaya masyarakat Bandung.

“Peran nilai sejarah Masjid Agung ini sangat luar biasa dari segi Islam Sunda dan Sunda Islam. Masjid ini menjadi pusat edukasi, religi, budaya, hingga geopolitik sejak 1812,” ujarnya, Kamis 7 Mei 2026.

Awal Berdirinya Masjid Agung Bandung

Masjid ini dibangun ketika pusat Kabupaten Bandung dipindahkan dari Krapyak ke kawasan alun-alun yang kini menjadi jantung kota. Dalam tata ruang Hindia Belanda, alun-alun memiliki fungsi penting sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat.

Di kawasan tersebut, pendopo ditempatkan di sisi selatan, pasar di timur, penjara di utara, dan masjid berada di bagian barat alun-alun.

Pada masa awal berdiri, bangunan masjid masih sangat sederhana. Materialnya menggunakan anyaman bambu, tiang kayu, serta atap rumbia dengan bentuk panggung khas rumah tradisional Sunda.

Meski sederhana, masjid memiliki fungsi besar sebagai pusat ibadah, tempat musyawarah, hingga ruang berkumpul masyarakat.

Arsitektur Bale Nyungcung Jadi Ikon Bandung

Memasuki pertengahan abad ke-19, bangunan masjid mulai diperkuat menggunakan bata dan genteng tanah liat. Dari proses renovasi tersebut lahir bentuk arsitektur khas bernama bale nyungcung.

Atap limas bertingkat tiga yang meruncing ke atas menjadi simbol arsitektur Sunda Islam yang sangat dikenal masyarakat Bandung pada masa itu. Bentuk atap tersebut dipercaya melambangkan perjalanan spiritual manusia menuju Sang Pencipta.

Keunikan desain bale nyungcung bahkan pernah diabadikan oleh pelukis Inggris, W. Spreat, pada 1852. Dalam lukisannya, masjid tampak berdiri anggun di sisi alun-alun Kota Bandung yang saat itu masih berkembang.

Bagi masyarakat Sunda, bentuk atap tersebut bukan sekadar desain bangunan, tetapi bagian dari identitas budaya dan sejarah kota.

Renovasi Era Sukarno dan Konferensi Asia Afrika 1955

Perubahan besar terjadi pada 1955 saat Sukarno mempersiapkan Bandung sebagai tuan rumah Konferensi Asia Afrika.

Sebagai ajang diplomasi internasional yang dihadiri 29 negara Asia dan Afrika, Bandung dipersiapkan agar tampil megah di mata dunia. Salah satu bangunan yang ikut direnovasi adalah Masjid Agung Bandung.

Atap bale nyungcung kemudian dibongkar dan diganti dengan kubah bergaya Timur Tengah berbentuk bawang. Perubahan tersebut sempat memunculkan pro dan kontra, namun menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan masjid.

Menurut Rudi Wiranatakusumah, momentum Konferensi Asia Afrika menjadikan masjid memiliki nilai geopolitik yang sangat kuat.

“Sukarno mengagungkan Masjid Agung ini pada tahun 1955 untuk Asia Afrika. Presiden pertama kita sering berhikmat di sini hingga terinspirasi mendeklarasikan Dasasila Bandung,” katanya.

Ia juga menyebut sejumlah kepala negara peserta konferensi sempat mengunjungi masjid setelah agenda resmi selesai dilaksanakan.

Masjid Raya Bandung Kini Jadi Ikon Wisata Religi

Setelah era Asia Afrika, bangunan masjid kembali mengalami beberapa kali renovasi akibat kerusakan dan perubahan desain. Perombakan terbesar dilakukan pada awal 2000-an ketika kawasan alun-alun ditata ulang.

Sejak saat itu, wajah lama masjid berubah menjadi bangunan modern dengan kubah besar dan dua menara kembar setinggi 81 meter. Nama resminya juga berubah menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.

Meski mengalami modernisasi, unsur arsitektur Sunda tetap dipertahankan melalui ornamen kecil menyerupai bale nyungcung di bagian atas menara.

Saat ini, masjid mampu menampung sekitar 13 ribu jamaah di area seluas lebih dari 23 ribu meter persegi. Selain menjadi tempat ibadah, kawasan ini juga berkembang sebagai destinasi wisata religi favorit di Bandung.

Wacana Cagar Budaya dan Tantangan Operasional

Di balik kemegahannya, Masjid Agung Bandung menghadapi tantangan baru. Sejak Januari 2026, dukungan operasional dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dihentikan karena status masjid disebut sebagai aset wakaf, bukan aset pemerintah daerah.

Kondisi tersebut berdampak pada operasional masjid dan pemeliharaan bangunan yang kini memiliki ratusan titik kerusakan.

Situasi ini kembali memunculkan wacana penetapan Masjid Agung Bandung sebagai cagar budaya atau heritage karena nilai sejarah, budaya, dan diplomasi yang dimilikinya.

Rudi Wiranatakusumah menilai keputusan mengenai status heritage sebaiknya diserahkan kepada para ahli, namun ia menegaskan sejarah masjid terlalu penting untuk dilupakan.

Hingga kini, Masjid Agung Bandung Provinsi Jawa Barat tetap menjadi simbol perjalanan panjang sejarah Sunda, Islam, kemerdekaan Indonesia, hingga diplomasi dunia yang pernah berlangsung di Kota Bandung.(Aan/*)

Editor: Singgih

Share post:

Subscribe

spot_img

Popular

More like this
Related

Keunikan Rusa Sambar Dan Masa Hidupnya

Pentas.TV, Rusa Sambar adalah salah satu spesies mamalia yang...

Ogah  Operasional Kereta Terganggu Berbagai Kendala, KAI Inspeksi Seluruh Fasilitas, Begini Penjelasannya

PENTAS.TV - BANDUNG, Beragam kendala, baik teknis maupun non-teknis,...

Sekda Jabar dan Kandang Jepit

Pentas.TV-Bandung, Sekda Jawa Barat, Herman Suryatman pada kunjungan dadakannya...

Partner Bank BJB Bertambah, Kali Ini Jabat Erat PT Taspen, Apa Bentuk Kolaborasinya?

PENTAS.TV - BANDUNG, Demi terciptanya performa dan kinerja apik,...