PENTAS.TV, BANDUNG – Sosok Achmad Jufriyanto Tohir bagi Persib adalah bukan sekedar pemain andalan tapi sebagai jimat pelepas kutukan 19 tahun. Ia adalah simbol ketenangan, benteng kokoh, dan saksi hidup pasang surut kejayaan Maung Bandung.
Pada penyerahan uang kadeudeuh dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kepada para pemain Persib di sela sela rapat paripurna DPRD Jabar, pada Rabu (3/6/2026) Achmad Jufriyanto Tohir dipilih sebagai penerima simbolis uang 1 miliar itu.
Di usianya ke-39 tahun, saat banyak rekan seangkatannya memilih gantung sepatu atau beralih taktik di pinggir lapangan sebagai pelatih, Jupe justru menolak tunduk pada usia. Ia tetap setia mengenakan jersi bernomor punggung 16, berdiri tegap mengawal lini pertahanan Pangeran Biru.
Menolak Tua, Menjaga Warisan
Pria jangkung dan tegap dari Tangerang 7 Februari 1987 lalu, Jupe, panggilan akrab Achmad Jufriyanto Tohir adalah definisi nyata dari seorang versatile player (pemain serba bisa). Memiliki tinggi badan 1,80 meter, ia tak hanya piawai memotong bola-bola udara sebagai bek tengah, tetapi j cair ketika digeser sedikit ke depan menjadi gelandang bertahan.
Kariernya adalah sebuah petualangan hebat. Jupe tercatat pernah membela panji-panji klub raksasa tanah air, seperti
• Memulai langkah di Persita Tangerang (2005–2008)
• Menjaga lini tengah Arema Malang dan Pelita Jaya
• Meraih masa keemasan awal bersama Sriwijaya FC
• Bahkan sempat mencicipi ketatnya atmosfer Liga Malaysia bersama Kuala Lumpur FA (2018–2019)
Namun, sejauh apa pun ia melangkah, takdir selalu menuntunnya kembali ke pelukan Kota Kembang.
Mengapa Jupe Begitu Keramat bagi Bobotoh?
Ada satu alasan utama mengapa nama Achmad Jufriyanto tertulis dengan tinta emas dalam sejarah Persib. Mundur ke tahun 2014, Indonesia Super League (ISL) menjadi panggung pembuktian. Di bawah arahan pelatih legendaris, Jupe menjadi pahlawan yang memutus kutukan kedahagaan gelar juara Persib selama 19 tahun!
Tidak berhenti di situ, setahun berikutnya ia kembali membawa trofi Piala Presiden 2015 ke Bandung. Kombinasi ketenangan, kepemimpinan, dan loyalitasnya membuat Jupe tidak sekadar menjadi pemain, melainkan sosok jenderal ruang ganti yang sangat dihormati oleh para pemain muda.
Panggung Internasional dan Kenangan Ivan Kolev
Kualitas Jupe bukan kaleng-kaleng. Jauh sebelum ia menjadi ikon Bandung, bakatnya sudah dicium oleh pelatih legendaris Timnas Indonesia, Ivan Kolev. Jupe adalah bagian dari generasi emas yang membela panji Merah Putih di ajang SEA Games 2007 dan terus menjadi langganan timnas senior hingga tahun 2014.
Pertanyaan Besarnya: Sampai Kapan Sang Jenderal Bertahan?
Melihat statistiknya yang telah mencatatkan lebih dari 130 penampilan dalam tiga periode berbeda bersama Persib Bandung, Jupe kini berada di persimpangan karier yang menarik. Di tengah gempuran bek-bek asing modern dan talenta muda yang jauh lebih bertenaga, Jupe tetap punya tempat tersendiri di hati Bobotoh.
Apakah musim ini akan menjadi tarian terakhir (last dance) sang legenda di kasta tertinggi sepak bola Indonesia? Ataukah ia masih punya satu kejutan lagi untuk membawa Persib kembali mengangkat trofi juara? Satu yang pasti: selama sirine tanda pertandingan belum berakhir, sang jenderal akan tetap setia menjaga jantung pertahanan Maung Bandung.***

