Laba PLN Berkurang Drastis, Tapi Pendapatannya Bertambah, kok Bisa?

Publikasi:

PENTAS.TV – BANDUNG, Torehan performa dan kinerja sebuah korporasi, tidak selamanya positif. Terkadang, mengalami masa-masa sulit sehingga pencapaiannya pun kurang memuaskan.

Penyebabnya pun beragam. Di antaranya, terdampak berbagai dinamika global, semisal terjadinya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi itu yang sepertinya dialami korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor energi, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero).

Apa buktinya?

Mengacu pada pelaporan keuangan yang teraudit, secara konsolidasi, selama 2025, PT PLN (Persero) menorehkan pencapaian kurang positif.

Indikatornya, pada 2025, laba tahun berjalan yang diraup PT PLN (Persero), apabila perbandingannya dengan 2024, berkurang sangat signifikan, yakni 65,8 persen. Nominalnya pada level Rp7,26 triliun.

Sedangkan pada 2024, industri strategis pelat merah itu membukukan laba bersih bernilai Rp21,23 triliun.

Uniknya, perolehan income PT PLN (Persero) pada 2025, justru bertambah, yakni menjadi Rp582,68 triliun. Nominal income tahun sebelumnya yakni Rp545,38 triliun

Bertambahnya perolehan income itu berkat hasil penjualan tenaga listrik, yang nilainya Rp367,09 triliun selama 2025, lebih banyak daripada tahun sebelumnya, yaitu Rp353,18 triliun.

Selain itu, juga ditopang oleh kompensasi pemerintah, bernilai Rp112,73 triliun, melebihi nominal tahun sebelumnya, Rp100,18 triliun.

Lalu, apa yang menyebabkan laba tahun berjalan PT PLN (Persero) merosot sangat drastis?

Ternyata, bertambahnya income tersebut tidak sebanding dengan beban usaha. Selama 2025, nilai beban usaha PT PLN (Persero) bernilai Rp533,46 triliun, melebihi periode 2024, yang angkanya Rp488,76 triliun.

Terjadinya perubahan harga bahan bakar dan pelumas, menjadi faktor penyebab bertambahnya beban usaha korporasi Merah Putih tersebut.

Selama 2025, PT PLN (Persero) menghabiskan dana bernilai Rp198,61 triliun untuk pemenuhan kebutuhan bahan bakar dan pelumas. Nilai itu, melebihi periode 2024, yang nominalnya Rp179,29 triliun.

Faktor lainnya, yaitu bertambahnya beban usaha pembelian tenaga listrik oleh kalangan Independen Power Production (IPP) alias swasta, menjadi Rp195,21 triliun pada 2025.

Sedangkan tahun sebelumnya, nilai pembelian tenaga listrik oleh kalangan IPP yakni Rp178,63 triliun.

Pemicu selanjutnya adalah perkembangan negatif kurs mata uang. Tahun lalu, PT PLN (Persero) mengalami kerugian kurs mata uang Rp12,46 triliun, jauh lebih besar daripada 2014, yang nilainya Rp6,78 triliun.

Beban keuangan PT PLN (Persero), yang pada 2025 bernilai Rp24,86 triliun,, melebihi tahun sebelumnya, yakni Rp24,42; triliun, juga turut menyebabkan perolehan laba tahun berjalan terkontraksi. (win/*)

Editor: Redaksi

Share post:

Subscribe

spot_img

Popular

More like this
Related

Beras Jabar Aman, Penyerapan Masif, Stoknya Berlimpah, Apa Kata Bulog?

PENTAS.TV - BANDUNG, Tekad pemerintah untuk memperkuat stabilitas dan...

Pengahancur Kutukan 19 Tahun: Rahasiah di Balik Alasan  Achmad Jurfriyanti jadi Jimat Maung Bandung!

PENTAS.TV, BANDUNG - Sosok Achmad Jufriyanto Tohir bagi Persib...

Founder Sepatu Loba, Akhsan Hakim; Sepatu Loba Tawarkan Kualitas Premium dan Kenyamanan Pantofel

PENTAS.TV - Kebutuhan sepatu pantofel tetap menjadi daya tarik...

Masifnya Penyerapan Gabah Bikin Stok CBP pun Makin Berlimpah

PENTAS.TV - BANDUNG, Demi terciptanya ketahanan dan stabilitas pangan,...