Pasien COVID-19 di Jabar Dapat Layanan Curhat Online

0
95

Bandung, PENTAS – Efek kesehatan mental para pasien COVID-19, dinilai sama pentingnya untuk diatasi, seperti halnya efek kesehatan fisik. Masyarakat merespon dan mengelola penyebaran COVID-19 dengan cara yang bebeda. Sebagian yang kurang menanggapi ancaman, mempraktikkan kebersihan atau jika sakit tidak tinggal dirumah sehingga membantu penyebaran. Sebagian lagi merespons ancaman secara berlebihan, menjadi sangat cemas dan berusaha keras menjaga diri mereka tetap aman, mereka mungkin menjadi Xenofobik atau ketakutan yang irasional terhadap orang asing. Demikian disampaikan Psikiater dr. Teddy Hidayat, Sp KJ (K) melalui rilis yang diterima PENTAS, Rabu (01/04/2020).

Ia menjelaskan, bila dilakukan intervensi dengan baik prediksi jumlah penduduk Indonesia yang akan tertular 8000 orang, gejala ringan atau self-limited 80%, sedang perlu perawatan 20 % dan yang meninggal 4 %.

“Penyakit COVID-19 menyebar dengan cepat karena penularannya melalui droplet infection yang sulit dicegah. Obat dan vaksin COVID-19 sampai saat ini masih belum ditemukan, oleh karena itu upaya pencegahan penularan hanya mungkindilakukan dengan merubah perilaku ; isolasi, jaga jarak sosial dan mencuci tangan dengan sabun, dan ini menuntut kedisiplinan masyarakat,” papar dr Teddy.

Besarnya angka kematian COVID-19, kata dr Tedy, ditentukan oleh kualitas layanan kesehatan yang tersedia di tempat tersebut; seberapa banyak tenaga ahli medis dan fasilitas. Ia mencontohkan, di China angka kematian berkisar 3,4 % dan di Itali 7 % dan di Indonesia masih dipertanyakan.

“Salah satu upaya penting menurunkan angka kematian COVID-19 adalah dengan meningkatkan kekebalan tubuh atau imunitas. Semakin baik kekebalan tubuh semakin kecil risiko untuk sakit dan meninggal. Studi psikososial COVID-19 masih terbatas, namun dari peristiwa serupa menunjukkan mereka mengalami kecemasan, kesedihan, ketakutan, kesepian, merasa ditinggalkan dan stigmatisasi. Pasien COVID-19 dengan komorbiditas cemas atau depresi memerlukan pengelolaan yang menyeluruh termasuk kesehatan mental dan psikososialnya”, katanya.

Intervensi psikososial pasien COVID-19 melalui pendampingan virtual oleh peer support dan art psikoterapi diharapkan akan menurunkan tingkat kecemasan dan kesedihan, meningkatkan kekebalan tubuh yang akhirnya mengurangi tingkat kematian. Intervensi psikososial COVID-19, kata dr Teddy, terutama bagi mereka yang menjalani isolasi, dianjurkan untuk tetap terhubung dengan keluarga dan teman, disarankan bukan SMS tapi ke panggilan suara agar merasa lebih terhubung.

“Pasien COVID-19 juga harus melakukan hal yang disukai seperti mengaji, melukis, membaca atau musik, berlatih mengelola stres, latihan relaksasi, mindfulness atau pernapasan dan Tetap optimis, terus melihat ke depan, buat rencana selama enam bulan ke depan,”tegasnya.

Pendampingan kesehatan mental pasien COVID-19 mulai dilaksanakan pada 1 April 2020, yang diprakarsai okeh , PKJM Pemerintah Provinsi Jawa Barat, ITB, LPPM ITB, PusdiInfeksi FK UNPAD/RSHS, RS Melinda 2, Klinik Utama Surya Medika Jatayu 76, Lundbeck Export A/S, Komunitas DEKAP dan RUANG TENGAH.

“Adapun kegiatannya adalah pendampingan oleh relawan dengan Modul SeMeDi (Selalu Mendampingi Dirimu) pada pasien COVID–19, Layanan Art psychotherapy-ITB pada pasien COVID–19, Intervensi Psikososial melalui Aplikasi pada Pasien COVID-19,” jelas dr Teddy.

Ia berharap, sumbangsih yang diberikan menjadi sesuatu yang bermanfaat dalam mengatasi bencana kemanusiaan yang tengah melanda masyarakat.

“Untuk melayani layanan pendampingan oleh relawan dan psikoterapi seni, silahkan kirimkan pesan melalui instagram dengan ketik.hasaka atau untuk mengetahui informasi lebih lanjut silahkan hubungi hotline 081.827.2255,” pungkasnya***