
PENTAS.TV -BANDUNG, Dampak negatif konflik geopolitik di Timur Tengah, antara Amerika Serikat (AS) dan Iran selama beberapa waktu terakhir, dialami banyak industri, tidak terkecuali otomotif.
Terbukti, realisasi penjualan sejumlah brand otomotif ternama, termasuk penguasa singgasana pasar global, Toyota, mengalami kelesuan.
Dalam penjelasannya, Takanori Azuma, Chief Accounting Toyota Motor Corporation, tidak membantah bahwa realisasi penjualan pada level global untuk periode April 2026, mengalami perkembangan negatif.
“Kondisi ini adalah untuk yang ketiga kalinya secara beruntun selama 2026 sebagai efek konflik geopolitik di Timur Tengah,” tandas Takanori Azuma.
Secara produksi, Takanori Azuma mengklaim bahwa produsen otomotif berlogo The Triple Elips itu memang bertambah 3,4 persen lebih banyak daripada periode sama 2025, yaitu jumlahnya menjadi 933.685 unit.
Namun, realisasi penjualan global, sambungnya, justru terkoreksi 3,7 persen secara tahunan atau menjadi sebanyak 902.015 unit.
Takanori Azuma menuturkan, bagi para produsen otomotif, masih berlangsungnya konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi menyebabkan risiko yang lebih besar.
Pasalnya, jelas dia, para produsen otomotif memiliki kebergantungan besar pada supply chain, komponen atau spare part, bahan baku, dan energi, utamanya yang berkaitan dengan Teluk Hormuz
Indikator negatifnya penjualan Toyota Motor Corporation sebagai dampak konflik Timur Tengah, beber dia, yakni terllihat pada realisasi kinerja ekspor.
Takanori Azuma mengemukakan, pada April 2026, realisasi ekspor ke negara-negara Timur Tengah menyusut sangat signifikan, yakni 92 persen. Volumenya menjadi 2.418 unit.
Biasanya atau dalam kondisi normal, ungkap dia, pihak ya mengekspor sekitar 500-600 ribu unit ke negara-negara teluk setiap tahunnya.
“Tekanan logistik dan perdagangan menjadi lebih besar seiring dengan terjadinya konflik Timur Tengah,” tuturnya.
Selain itu, ternyata, konflik tersebut juga berefek pada pergerakan kinerja penjualan Toyota Motor Corporation di wilayah China.
Melansir Kyodo, di Negeri The Great Wall, para produsen otomotif asal Jepang pun mengalami situasi dan kondisi yang tidak ringan.
Informasinya, di China, pada April 2026, realisasi penjualan Toyota Motor Corporation merosot 25 persen secara tahunan.
Toyota Motor Corporation memprediksi operational income bernilai 3 triliun yen, setara 18,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp335,29 triliun, lebih sedikit daripada proyeksi tahun fiskal, yakni 3,8 triliun yen, setara 23,82 miliar dolar AS, atau sekitar Rp424,68 triliun.
Produsen otomotif asal Jepang lainnya, Honda Motor Company dan Nissan Motor Company juga mengalami situasi yang mirip dengan Toyota Motor Corporation.
Volume Penjualan Honda Motor Company pada April 2026 berjumlah 265,215 unit. Perbandingannya dengan periode sama 2025, berkurang 7,9 persen.
Sedangkan Nissan Motor Company membukukan volume penjualan sebanyak 208.663 unit, berkurang 7,6 persen secara tahunan. (win/*)

