
PENTAS.TV – BANDUNG, Berbagai dinamika yang terjadi selama beberapa waktu terakhir, di antaranya konflik geopolitik di Timur Tengah, berpengaruh pada beragam sektor usaha dan industri. Satu di antaranya, otomotif.
Terbukti, banyak produsen otomotif mengalami kondisi yang anomali. Misalnya, secara pasar, volume penjualan, dan income mengalami pergerakan positif. Ironisnya, perolehan laba justru terkontraksi.
Kondisi itu dialami produsen otomotif raksasa asal Korea Selatan, Hyundai Motor Company Group.
Dalam keterangannya, Hyundai Motor Company mengklaim membukukan income periode pertama 2026 bernilai 46,94 triliun won atau sekitar Rp544,19 triliun, bertambah 3,4 persen secara tahunan.
Kondisi itu berkat hasil penjualan model Hybrid Electric Vehicle (HEV) serta varian elektrifikasi lainnya.
Secara kumulatif, pada tiga bulan awal 2026, volume penjualan model elektrifikasi Hyundai Motor Company, yang juga meliputi Kia Motors Corporation, berjumlah 241.612 unit.
Penjualan termasif yakni model HEV, sebanyak 173.977 unit. Sisanya, yang berjumlah 58.788 unit merupakan model Electric Vehicle (EV).
Pada pasar global, periode Januari-Maret 2026, Hyundai Motor Company Group menjual sebanyak 976.219 unit, sedikit terkoreksi, yakni 2,5 persen secara tahunan akibat terjadinya berbagai dinamika , termasuk konflik geopolitik.
Meski demikian, secara market, Hyundai Motor Company merebut 4,9 persen, lebih baik daripada sebelumnya, yaitu 4,6 persen.
Uniknya, masifnya nominal income, volume penjualan, dan pergerakan positif pangsa pasar, laba operasional produsen otomotif asal Negeri Ginseng itu justru menyusut cukup signifikan, yakni 30,8 persen atau menjadi 2,51 triliun won, setara sekitar Rp29,7 triliun.
Hyundai Motor Company menyatakan, menyusut ya perolehan laba operasional itu terpengaruh oleh terbitnya kebijakan tarif yang diberlakukan pemerintah Amerika Serikat (AS).
Selain laba operasional, laba bersih, yang meliputi dividen bagi para pemilik saham minoritas, juga berkurang 23,6 persen. Nilainya menjadi 2,58 triliun won, setara Rp30,5 triliun. (win/*)

