PENTAS.TV – BANDUNG, Memasuki pekan terakhir April 2026, kendala non-teknis kembali dialami PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero).
Terjadinya pembatalan empat perjalanan Siliwangi (Cipatat-Sukabumi pp) menjadi bukti terkini.
Pembatalan empat perjalanan Siliwangi itu akibat pergeseran tanah pada ruas Cibeber Lampegan, tepatnya Kilo Meter( KM) 74+900-74 + 00.
Informasinya, pergeseran tanah atau gogosan tersebut terjadi pada 19 April 2016 pukul 19.55 WIB.
Setelah menerima informasi tersebut, PT KAI (Persero) bergerak cepat menangani permasalahan tersebut.
Di lokasi, para petugas menemukan struktur jalur rel yang tidak sesuai akibat gogosan. Kondisi itu sangat berisiko sekaligus berbahaya bagi perjalanan kereta..
Kuswardoyo, Manager Hubungan Masyarakat (Humas) PT KAI (Persero) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, menginformasikan, hingga kini, proses normalisasi Cibeber-Lampegan masih berlangsung.
“Jadi, jalur tersebut belum bisa dilintasi kereta,” tandas Kus, sapaan akrabnya.
Efeknya, lanjut Kus, demi keselamatan dan keamanan perjalanan, secara total, pada 20 April 2026, pihaknya membatalkan empat perjalanan Siliwangi.
Pembatalan pertama, ungkap mantan Manager Humas PT KAI (Persero) Daop 7 Madiun itu, yakni Siliwangi KA 345 (Cipatat-Sukabumi).
Kus menyatakan, demi keselamatan, pihaknya memberhentikan perjalanan Siliwangi KA 345 di Stasiun Cianjur karena kondisi jalur Cibeber-Lampegan, mustahil dan sangat riskan dilewati kereta tersebut.
Rangkaian Siliwangi berikutnya yang mengalami pembatalan, lanjut dia, adalah KA 342 (Sukabumi-Cipatat).
“Dua lainnya, yakni Siliwangi KA 341 (Cipatat-Sukabumi) dan Siliwangi KA 344 (Sukabumi-Cipatat),” tutur mantan Manager Humas PT KAI (Persero) Daop 3 Cirebon itu.
Sebagai bentuk kompensasi dan pelayanan, Kus menyampaikan, pihaknya mempersilakan para penumpang Siliwangi, khususnya, yang mengalami pembatalan perjalanan, untuk melakukan refund alias pengembalian tarif tiket 100 persen, tetapi tidak termasuk biaya pemesanan.
“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penumpang yang terdampak gangguan ini. Kami paham bahwa pembatalan perjalanan ini menimbulkan ketidaknyamanan,” tutup mantan Manager Public Relations Light Rail Transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) ini. (win)

