
PENTAS.TV – BANDUNG, Terjadinya berbagai dinamika global, semisal konflik geopolitik di Timur Tengah, cukup berpengaruh pada berbagai sektor.
Meski demikian, khusus sektor pangan, perkembangannya dalam kondisi relatif stabil. Di antaranya, komoditas beras.
“Alhamdulillah, stok beras Jabar aman. Volumenya sekitar 850 ribu ton. Jumlah itu, In Syaa Allah, mencukupi kebutuhan masyarakat hingga tahun depan,” tandas Nurman Susilo, Pemimpin Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Kantor Wilayah (Kanwil) Jabar, sesuai pemantauan harga pangan di Pasar Astanaanyar, 7 Juni 2026.
Bahkan, tegas dia, berlimpahnya stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tersebut, pihaknya turut menyuplai beberapa provinsi lain.
Di antaranya, ujar Nurman Susilo, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, dan Kalimantan Barat.
Masifnya ketersediaan CBP yang pihaknya kelola itu, ungkapnya, berkat hasil penyerapan dan pengadaan beras atau gabah kering setara beras yang perkembangannya positif.
“Hingga kini, realisasi pengadaan dan penyerapan beras atau gabah kering setara beras petani bervolume sekitar 590 ribu ton,” paparnya.
Realisasi pengadaan tersebut, sambungnya, setara dengan sekitar 70 persen target penugasan pemerintah yang volumenya 700 ribu ton.
Tidak hanya soal stok, Nurman Susilo mengklaim bahwa harga beberapa komoditas, seperti bawang, cabai, ayam, telur, termasuk beras, relatif stabil.
Dia menuturkan, berdasarkan pemantauan, harga bawang dan cabai masih pada level Harga Acuan Pemerintah (HAP). Yakni, tukasnya, secara rata-rata, masing-masing berharga Rp35.000-Rp40.000 per kilo gram dan Rp50.000-Rp60.000 per kilo gram.
Sama halnya dengan beras. Harga komoditi pangan utama publik tanah air tersebut, lanjutnya, berdasarkan pemantauan, rata-rata pada posisi Rp13.500–Rp16.000 per kilo gram.
“Sedangkan telur, harganya lebih murah daripada HAP, yaitu sekitar Rp26.000 per kilo gram,” sahut Nurman Susilo.(win/*)
Harga pangan Jabar, harga beras, stok beras Jabar, Bulog, Nurman Susilo

