
PENTAS.TV – BANDUNG, Meski masih terjadi beragam dinamika y, semisal konflik geopolitik di Timur Tengah, performa dan kinerja perbankan nasional masih dan tetap menunjukkan geliatnya.
Dalam keterangannya, Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menginformasikan, bahwa hingga Maret 2026, perbankan menunjukkan performa dan kinerja apik serta cemerlang.
Mantan Kepala Bank Indonesia BI Kantor Perwakilan (KPw) Jabar ini mengatakan, ada beberapa indikator yang menunjukkan geliat kinerja perbankan di tanah air.
Antara lain, ungkap pria berkaca mata ini, yakni penyaluran kredit atau pembiayaan. Hingga Maret 2026, secara total, perbankan nasional menyalurkan kredit bernominal Rp8.659,05 triliun.
Secara tahunan atau perbandingannya dengan realisasi hingga akhir Maret 2025, jelas Dian Ediana Rae, bertambah 9,49 persen.
“Secara bulanan atau perbandingannya dengan Februari 2026, juga lebih banyak 9,37 persen,” tandas Dian Ediana Rae.
Super masifnya penyaluran kredit tersebut, kata Dian Ediana Rae, merupakan hasil kerja nyata perbankan-perbankan berlabel Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan swasta nasional.
Selain itu ,sambung dia, juga kontribusi beberapa perbankan asing plus Kantor Cabang Bank Luar Negeri ( KCBLN).
Hebatnya, tambah dia, gelontoran kredit atau pembiayaan bernilai super jumbo itu diimbangi perkembangan rasio Non Performing Loans (NPL) Gross dan NPL Net.
“Pada Maret 2026, posisi NPL Gross dan NPL Net, yakni masing-masing 2,14 persen serta 0,83 persen,” paparnya
Rasio NPL Gross dan NPL Net periode Maret tersebut, imbuhnya, lebih baik daripada posisi Februari 2026, membaik dibandingkan Februari 2026, yaitu masing-masing 2,17 persen serta 0,83 persen.
Indikator berikutnya, sahut Dian Ediana Rae, yaitu bertambah kuatnya kepercayaan publik. Hal itu, ujarnya, tercermin pada semakin berlimpahnya pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK).
Secara tahunan, beber dia, perbankan di Indonesia pengelolaan DPK bertambah 13,55 persen.
Nominalnya, sebut dia, menjadi Rp10.230,81 triliun. Sedangkan secara bulanan, kata Dian Ediana Rae, terjadi pergerakan positif 13,18 persen.
Penopang bergairahnya nilai pengelolaan DPK hingga akhir triwulan I 2026 tersebut, ucap dia, yakni pada Current Account-Saving Account (CASA) alias dana murah yang terdiri atas tabungan dan giro, dan dana mahal, berupa deposito.
Pada akhir Maret 2026, beber dia, secara tahunan, giro dan tabungan yang dikelola perbankan, masing-masing bertambah 8,36 persen serta 11,57 persen .
“Deposito, pada triwulan awal 2026, juga bertambah 21,37 persen secara tahunan,” pungkas Dian Ediana Rae. (win/*)

