Minggu, 17 Mei 2026

“Suamiku Lukaku” Viral! Kisah Pilu Korban KDRT Ini Bikin Publik Tersentuh, Perempuan Diajak Berani Melawan

0
Komunitas perempuan penolak kekerasan pada perempuan berkumpul serukan perlakukan perempuan dengan lembut
Komunitas perempuan penolak kekerasan pada perempuan berkumpul serukan perlakukan perempuan dengan lembut

Pentas.TV-Bandung, Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia masih menjadi perhatian serius. Data pemerintah menunjukkan ribuan perempuan setiap tahun menjadi korban kekerasan fisik maupun psikis di lingkungan rumah tangga.

Kondisi ini membuat banyak korban memilih diam karena takut, tertekan, hingga mengalami trauma berkepanjangan.

Fenomena tersebut diangkat dalam film Suamiku Lukaku, sebuah karya yang menyuarakan pengalaman perempuan korban KDRT sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli terhadap pentingnya perlindungan perempuan dan kesehatan mental keluarga.

Kegiatan pemutaran dan diskusi film digelar di sejumlah kota seperti Bandung, Solo, Semarang, Surabaya, hingga Yogyakarta. Acara tersebut menghadirkan sejumlah perempuan yang pernah mengalami pahitnya kekerasan dalam rumah tangga.

Salah satu peserta, Ade Rahmi (49), warga Rajawali Ciroyom Bandung, mengaku pernah menjadi korban KDRT selama bertahun-tahun. Ia mengatakan, awalnya memilih diam sebelum akhirnya memberanikan diri berbicara dan memutuskan berpisah dari suaminya.

“Dulu saya jadi istri yang pendiam. Tetapi karena terlalu sering disakiti, akhirnya saya berani mengungkapkan perasaan dan memilih meminta cerai,” ujarnya, Minggu (17/05/2025).
Ade mengungkapkan kekerasan yang dialaminya terjadi hampir setiap hari. Ia mengaku kerap mengalami pemukulan hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.

“Kalau suami pulang kerja, saya sering dipukul sampai benjol-benjol. Sampai sekarang saya belum siap menikah lagi karena trauma masa lalu,” katanya.
Meski mengalami masa sulit, Ade berharap perempuan lain yang mengalami hal serupa tidak takut untuk berbicara dan mencari perlindungan.

“Kita sebagai perempuan harus kuat. Kalau merasa disakiti, harus berani mengungkapkan perasaan dan melawan. Yang penting bagaimana kita menjaga anak-anak kita,” ucapnya.
Peserta lainnya, Ifa, mengaku tersentuh dengan pesan yang dibawa film tersebut. Menurutnya, banyak perempuan masih hidup dalam tekanan dan rasa takut akibat perlakuan kasar pasangan.

“Perempuan itu butuh pelindung, bukan orang yang menyakiti. Menikah bukan sekadar status, tapi harus ada rasa sayang dan kasih,” katanya.
Ia menilai film Suamiku Lukaku menjadi media edukasi penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak KDRT terhadap perempuan, anak, dan keharmonisan keluarga.

“Perempuan juga berhak dicintai dan dihargai. Jangan sampai rumah tangga justru menjadi tempat yang penuh ketakutan,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Teman Film, Jeane, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang aman bagi perempuan untuk menyampaikan pengalaman sekaligus membangun keberanian melawan kekerasan dalam rumah tangga.

“Sebagian yang hadir memang pernah mengalami KDRT. Ada yang sudah berpisah, ada juga yang masih bertahan dalam rumah tangga. Di sini kita ingin menyuarakan bahwa perempuan harus berani melawan kekerasan,” katanya.

Jeane berharap masyarakat, khususnya para suami, dapat lebih menghargai perempuan dan menciptakan rumah tangga yang sehat, aman, serta penuh kasih sayang.
“Perempuan itu sosok yang lembut. Jadi jangan dikasari. Rumah tangga seharusnya menjadi tempat aman dan penuh kasih sayang,” pungkasnya.(by Singgih)

Editor: djarot